Penyangga Denyut Ekonomi Bahodopi
Sabtu, 9 Agustus 2025 - 06:32 WIB
Sumber :
- Dedy/VIVA
Budidaya ikan nila kelompok tani Berkah Mombula binaan IMIP
Photo :
- Ist
Sukarno menyebut kelompok taninya mampu mengantongi Rp15-30 juta dalam sekali panen, dikurangi biaya operasional dan pupuk. Hasil panen sebagiannya untuk memasok kebutuhan katering IMIP, dan sisanya dijual ke pasar yang ada di Bahodopi.
“Kalau untuk saat ini hasilnya produksi sudah mampu 50 persen serapan ke IMIP, 50 persen ke pasar,” ujar Sukarno menambahkan bahwa hasil panennya tidak seluruhnya dipasok ke IMIP karena standar khusus.
Selain pertanian hortikultura, Sukarno juga mengelola budidaya ikan nila dalam enam kolam terpal masing-masing berdiameter empat meter persegi. Setiap kolam menampung seribu benih dengan tingkat mortalitas 5-10 persen.
Ikan-ikan nila hasil budidaya ini akan dipanen sekitar 4-6 bulan dengan harga kisaran Rp40-50 ribu per kilogram. Bila mutu komoditas ikan ini sesuai kebutuhan IMIP akan langsung diserap, bila tidak akan dijual ke pasar.
Kelompok Tani Berkah Mombula merupakan bukti nyata pemberdayaan masyarakat dalam rangka meningkatkan kemampuan ekonomi masyarakat. Tarya mengatakan konsep memandirikan binaan sangat penting, karena tidak selamanya mereka dibina IMIP.
“Ada keinginan naik menjadi mitra, jadi scale up jadi mitra. Nah, Kelompok Tani Berkah Mombula ini sudah masuk fase mitra. Berkah Mombula ini menkoneksikan pertanian dan peternakan dengan inovasi budidaya ikan nila,” ujar Tarya, staf CSR IMIP
Populasi Meningkat-UMKM Menjamur
Geliat ekonomi Bahodopi tak hanya pada sektor hulu seperti pertanian dan peternakan, di sektor hilir juga tak kalah menopang ekonomi warga sekitaran kawasan industri IMIP. Betapa tidak, industrialisasi telah mengubah wajah Bahodopi dari semula masyarakat yang agraris menjadi masyarakat industri.
Dulunya mereka berkebun, bertani dan menjadi nelayan, tapi dengan masuknya industri hilirisasi nikel dan meningkatnya peluang kerja di sektor tersebut, banyak warga beralih profesi menjadi buruh industri dan pertambangan nikel. Tak hanya warga lokal, orang-orang dari luar wilayah pun berdatangan ke Bahodopi mencari penghidupan.
Baca Juga
Pekerja di kawasan IMIP Morowali
Photo :
- Dok IMIP
Seperti kata pepatah “ada gula dan ada semut’, bersamaan dengan lonjakan populasi pekerja dan daya beli karena kawasan industri, usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Bahodopi tumbuh pesat. Mulai dari warung makan, penginapan, kos-kosan, toko-kios atau minimarket, bengkel, kios BBM eceran hingga agen perbankan menjamur di sepanjang trans Sulawesi menuju kawasan IMIP
Survei IMIP menunjukkan, dalam kurun waktu lima tahun terakhir, jumlah usaha yang ada 12 desa se-Kecamatan Bahodopi mengalami pertumbuhan sebesar 62,7 persen. Dimana pada 2021, jumlah usaha di kecamatan Bahodopi sebanyak 4.697 unit usaha, dan di tahun 2025 jumlah usaha meningkat menjadi 7.643.
Direktur Komunikasi IMIP, Emilia Bassar mengatakan pertumbuhan jumlah usaha di Kecamatan Bahodopi, mencerminkan iklim usaha yang cukup kondusif dan potensi ekonomi lokal yang terus berkembang.
“Bayangkan, dulu warung-warung yang omzetnya Rp800 ribu, sekarang bisa Rp8 juta, bisa naik berlipat-lipat,” ujar Emilia Bassar dalam Media Tour IMIP pada 21 Juli 2025.
Peningkatan jumlah usaha di Bahodopi linear dengan perputaran uang di wilayah tersebut. Departemen Human Resources PT IMIP mencatat jumlah pekerja di kawasan IMIP berjumlah 85.520 orang (per 21 Juni 2025).
Bila rata-rata gaji pekerja IMIP, menurut Emilia, terendah dengan kualifikasi fresh graduate atau dibawah satu tahun kerja sekitar Rp6-7 juta per bulan. Besaran rata-rata gaji pekerja di kawasan IMIP jauh lebih tinggi dari Upah Minimum Sektoral Kabupaten (UMSK) Morowali sebesar Rp3,9 juta.
Jika dikalikan dengan jumlah karyawan di Kawasan IMIP dengan rata-rata pendapatan Rp6-7 juta, maka ada Rp598.6 miliar uang terus berputar di Bahodopi, Kabupaten Morowali, setiap bulannya. Jumlah yang sangat fantastis untuk wilayah dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tahun 2025 sebesar Rp2,86 triliun.
Masalah Lingkungan dan Sosial
Meski denyut ekonomi Bahodopi menunjukkan peningkatan signifikan, tapi ‘berkah’ itu membawa konsekuensi sosial dan lingkungan. Seperti masalah yang umum ditemui di kawasan-kawasan industri, Bahodopi pun menghadapi berbagai persoalan yang sama.
Lonjakan populasi menyebabkan berbagai persoalan terkait sanitasi, air bersih, infrastruktur jalan yang buruk hingga masalah sampah. Belum lagi debu polusi dan kemacetan akibat tingginya aktivitas industri di kawasan tersebut.
Head of Government Relations Department PT IMIP, Askurullah, mengakui infrastruktur jalan Trans Sulawesi menuju kawasan IMIP memang perlu perhatian serius. Bila kemarau jalanan rusak dan berdebu, bila musim hujan jalan banjir dan banyak genangan.
Askur mengatakan program CSR yang masif dilakukan IMIP sejatinya tidak bisa menjawab semua permasalahan di luar kawasan. Menurutnya, butuh kerjasama dengan stakeholder lain, termasuk dengan pemerintah kabupaten/provinsi dan pusat.
“Ada kerjasama jalan 14 kilometer dengan pemerintah, jalan Trans Sulawesi menuju IMIP, ini clear kita yang beresin. Sebelumnya terjadi longsor jembatan ambruk bikin lumpuh Bahodopi dari Makassar-Kendari terputus, kita juga yang beresin,” kata Askurullah kepada awak media dalam Media Tour IMIP 20-23 Juli 2025.
Halaman Selanjutnya
Source : Dok IMIPSedangkan sisanya dikerjakan pemerintah – dalam hal ini Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) XIV Palu. “Kalau debu di luar kawasan, kita bertanya ini jadi PR kawasan IMIP atau pemerintah?,” tanya diaSementara persoalan air bersih, IMIP telah membangun Terminal Air Bersih di Desa Bahomakmur Selain fasilitas terminal air bersih di desa Bahomakmur, PT IMIP juga menyerahkan terminal air baku di desa Fatufia dan Labota. IMIP mendistribusikan air bersih dari sumber air pengolahan WTP dalam kawasan IMIP ke lingkungan masyarakat sekitar.Namun persoalan pelik lain yang mencuat di Bahodopi adalah masalah sampah yang belum tertangani dengan baik. Sampah dibiarkan menumpuk di pinggir jalan hingga bau busuk mengganggu pengendara yang melintas. Kondisi ini ditemui hampir di semua wilayah di Kecamatan Bahodopi.Menjadi ironi, ketika daerah dengan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) mencapai Rp1 miliar per kapita – tertinggi di Indonesia, bahkan konon mengalahkan Jakarta, tapi penataan wilayahnya semrawut, jalan rusak, sampah berserakan di jalan. Semoga ada perbaikan!