Utang Meledak, Negara Terjerumus ke Lubang Hitam

Ilustrasi utang.
Sumber :
  • Pixabay/Stevepb

Jakarta, VIVA – Utang meledak menyebabkan negara terjerumus ke lubang hitam. Hal tersebut membuat pemerintahannya kalah dalam mosi tidak percaya di Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR).

img_title Terungkap! Bupati Klaten Diduga Terima Fee Rp2 Miliar Lebih, Uangnya untuk Bayar Utang Pilkada

Kejadian ini terjadi di Prancis, di mana Perdana Menteri Francois Bayrou tumbang akibat gagal mengendalikan utang negara yang terus membengkak.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kegagalan Pemerintah Prancis dalam mengendalikan utang negara yang terus meningkat, ditambah dengan pertikaian politik yang berkepanjangan, dapat menjerumuskannya ke dalam lubang hitam.

img_title Kenapa Asap Karhutla Masih Pekat meski Lahan Terbakar Tinggal 570 Hektare? Begini Kata BNPB

Prancis memiliki salah satu tingkat utang tertinggi di Uni Eropa, saat ini mencapai sekitar 113 persen dari PDB, rasio yang diperkirakan akan naik menjadi 125 persen pada 2030.

Defisit anggaran negara diproyeksikan mencapai 5,4-5,8 persen dari PDB tahun ini, jauh di atas batas 3 persen.

img_title 91 Dapur MBG Kena Suspend Buntut Tak Kembalikan Dana ke Kas Negara, Totalnya Rp18 Miliar

Mengutip situs Russian Today, Kamis, 11 September 2025, pemodal Charles Gave mengatakan bahwa jika lembaga pemeringkat kredit Fitch menurunkan peringkat Prancis dari AA menjadi A, hal itu akan mendorong investor institusional untuk menjual obligasi (surat utang) pemerintah.

“Ada sejumlah lembaga, [seperti] bank sentral dan perusahaan asuransi, yang tidak dapat berinvestasi pada sesuatu yang berada di bawah AA. Saya tahu sesuatu yang besar akan datang. Kita mengalami keruntuhan nyata dalam kualitas elit kita yang tercermin dalam kondisi politik yang menyedihkan,” ungkap Gave, meramalkan sebuah 'lubang hitam' yang disebabkan oleh kebijakan tidak logis yang diterapkan Pemerintah Prancis selama 20 tahun terakhir.

Sebagai informasi, Perdana Menteri Prancis Francois Bayrou kalah dalam mosi tidak percaya di Majelis Nasional (MPR), yang ia ajukan sendiri untuk mendapatkan dukungan bagi rencana penghematan yang drastis.

Langkah-langkah tersebut, yang meliputi pemangkasan lapangan kerja di sektor publik, pembatasan belanja kesejahteraan, serta penghapusan dua hari libur nasional, ditentang keras oleh Partai Nasional sayap kanan, Partai Sosialis, dan Partai Prancis yang berhaluan kiri.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Alhasil, Presiden Emmanuel Macron menunjuk Menteri Pertahanan Sebastien Lecornu yang akan lengser sebagai perdana menteri baru Prancis.

Meskipun defisit anggaran meningkat, Paris berencana untuk meningkatkan pengeluaran militernya menjadi 64 miliar Euro (Rp1.233 triliun) pada 2027, dua kali lipat dari yang dibelanjakan pada 2017.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut