Ray Dalio Peringatkan Krisis Utang di 2029, Bebannya Tembus US$40 Triliun!
- Financial Times
Jakarta, VIVA – Investor miliarder Ray Dalio kembali memperingatkan ancaman krisis utang yang membayangi Amerika Serikat (AS). Menurut pendiri Bridgewater Associates tersebut, kondisi keuangan AS saat ini semakin mendekati batas kemampuan setelah utang nasional terus bertambah dalam beberapa tahun terakhir.
Dalio bahkan memperkirakan krisis utang dapat terjadi dalam tiga tahun ke depan atau sekitar musim gugur 2029. Peringatan tersebut muncul ketika utang nasional AS telah menembus US$40 triliun, setara sekitar Rp712 kuadriliun dengan asumsi kurs Rp17.800 per dolar AS.
Ia mengatakan, besarnya utang serta kecepatan pertumbuhannya membuat AS semakin sulit mempertahankan kondisi tersebut. "Saya memperkirakan krisis utang akan terjadi dalam tiga tahun ke depan," kata Dalio, dikutip dari Business Insider, Rabu (7/10/2026).
Penulis buku How Countries Go Broke itu menilai AS kini "mendekati batas kemampuan" dalam menanggung akumulasi utang. "Ketika utang menumpuk lebih cepat daripada pembayarannya, maka biaya pembayaran utang akan meningkat," ujarnya.
"Hal itu menjadi persentase yang semakin tinggi dari arus kas seseorang. Dan ketika itu terjadi, utang mulai menekan pengeluaran. Maka, Anda menghadapi masalah," jelasnya.
Utang AS sendiri telah melewati US$40 triliun pada Agustus 2026. Dengan asumsi kurs Rp17.800 per dolar AS, angka tersebut setara sekitar Rp712 kuadriliun.
Secara riil setelah disesuaikan dengan inflasi, utang tersebut telah meningkat lebih dari US$10 triliun atau sekitar Rp178 kuadriliun sejak 2019. Kenaikannya mencapai lebih dari 33 persen dalam periode tersebut.
Dalio menyoroti persoalan lain yang semakin membebani pemerintah AS, yakni biaya pembayaran bunga utang. Pembayaran bunga tersebut telah mencapai lebih dari US$1 triliun per tahun atau sekitar Rp17,8 kuadriliun.
Besarnya pembayaran bunga membuat hampir seperlima anggaran federal terserap untuk membayar utang. Kondisi ini berpotensi mengurangi ruang pemerintah untuk membiayai kebutuhan lain, mulai dari jaminan sosial, layanan kesehatan, pertahanan hingga pendidikan.
Menurut Dalio, tekanan juga datang dari perubahan minat negara lain terhadap surat utang AS. Ketegangan geopolitik disebut telah membuat permintaan sejumlah negara terhadap utang AS ikut berkurang.