Fenomena Job Hugging: Bertahan Secukupnya, Berkembang Sebisanya
- Istimewa
Jakarta, VIVA – Empat tahun sudah Dita bekerja di sebuah startup teknologi di Jakarta. Saat pertama bergabung, suasananya penuh semangat dan ide segar. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, euforia itu perlahan meredup.
Sejak pandemi Covid-19, perusahaan mengalami restrukturisasi berulang kali. Beberapa divisi digabung, sebagian proyek dihentikan.
Satu per satu rekan Dita meninggalkan kantor, ada yang terkena pemutusan hubungan kerja, ada pula yang memilih hengkang lebih dulu sebelum ketidakpastian datang.
Dita bertahan. Meski beban kerja kian berat dan benefit tak lagi terasa sepadan, ia belum berani melangkah ke luar. "Aku pengin pindah, tapi pasar kerja sekarang juga enggak mudah," ujarnya pelan, seperti dikutip dari situs DW, Senin, 13 Oktober 2025.
Ia menyadari ruang untuk berkembang di kantornya kini semakin sempit. Rotasi jabatan jarang terjadi, proyek baru berkurang, dan peluang promosi nyaris tak terdengar sejak restrukturisasi dimulai.
Fenomena seperti yang dialami Dita kini kian sering terdengar.
Pasar kerja yang melambat, restrukturisasi di sejumlah sektor, dan meningkatnya otomatisasi membuat banyak pekerja memilih bertahan pada posisi yang sudah dijalani.
Sebuah kecenderungan baru pun muncul di ruang diskusi profesional dan media sosial: job hugging.
'Memeluk pekerjaan' demi rasa aman
Fenomena job hugging merujuk pada kondisi ketika seseorang tetap bertahan di pekerjaan yang dirasa aman secara finansial, meski tidak lagi memberi ruang berkembang.
Menurut laporan 2024 dari LinkedIn Workforce, 58 persen pekerja di Asia Tenggara mengaku "ragu pindah kerja" karena khawatir tidak menemukan peluang yang lebih baik.
Sementara di Indonesia, laporan Katadata Insight Center menunjukkan tiga dari lima pekerja menilai pekerjaan mereka stagnan, tetapi mereka memilih bertahan karena situasi ekonomi belum menentu.
Psikolog klinis Wayan Kesawa menilai fenomena ini mencerminkan bagaimana banyak pekerja terjebak antara rasa aman dan kebutuhan untuk tumbuh.
"Ketakutan utama bukan hanya kehilangan pendapatan, tapi juga kehilangan identitas profesional yang sudah dibangun bertahun-tahun," jelasnya kepada DW.
Ia menambahkan, stagnasi karier kerap diperkuat oleh tekanan ekonomi yang terus meningkat.