Pedang China Bernama Logam Tanah Jarang
- Earth Techling
Produsen AS sebabnya mendesak Washington DC untuk menegosiasikan kelonggaran. Selama perundingan dagang di London, Inggris, pada Juni 2025, China sepakat mempercepat lisensi ekspor, meski masih menyebabkan antrean panjang.
Pembatasan ekspor terbaru China mengancam implementasi kesepakatan ini. Kontrol strategis China atas logam tanah jarang sebagai alat geopolitik bukanlah hal baru.
Pada 2010, Beijing menghentikan ekspor ke Jepang selama dua bulan di tengah sengketa Pulau Senkaku, memicu lonjakan harga dan mengekspos risiko rantai pasokan.
AS bukan satu-satunya ekonomi yang terdampak oleh kekurangan logam tanah jarang. Uni Eropa (UE) bergantung pada China untuk 98 persen magnet logam tanah jarangnya, yang dibutuhkan untuk komponen mobil, jet tempur, dan perangkat pencitraan medis.
Asosiasi Pemasok Otomotif Uni Eropa memperingatkan bahwa sektor tersebut 'sudah mengalami gangguan signifikan' akibat pembatasan ekspor China, menambahkan bahwa hal ini telah menyebabkan 'penutupan beberapa jalur produksi dan pabrik di seluruh Eropa, dengan dampak lebih lanjut ke depan seiring menipisnya persediaan'.
Alberto Prina Cerai, peneliti di Italian Institute for International Political Studies (ISPI), mengaku jika dari segi skala, Barat tidak bisa mengejar China.
"Mereka memiliki rantai pasokan terintegrasi dari tambang hingga magnet yang sangat sulit ditiru. Namun, meski pemisahan total dari China 'tidak terpikirkan' dalam jangka pendek, Uni Eropa sebaiknya 'mengelola ketergantungan ini dengan strategi industri yang koheren',” jelasnya.
Komisi Uni Eropa, berniat mendorong memproduksi 7.000 ton magnet berbasis UE secara domestik pada 2030 di bawah Undang-Undang Bahan Mentah Kritis, dengan beberapa proyek pertambangan, pemurnian, dan daur ulang.
Sebuah pabrik pemrosesan logam tanah jarang besar dibuka di Estonia tahun ini, dan fasilitas besar lainnya di barat daya Prancis akan beroperasi pada 2026.
Komisaris Perdagangan Uni Eropa Maros Sefcovic menyebut pembatasan China "sangat mengganggu” sektor otomotif dan industri Benua Biru.
China mengusulkan "jalur hijau” untuk mempercepat persetujuan lisensi bagi perusahaan UE, tetapi para ahli memperingatkan persetujuan masih bisa memakan waktu hingga 45 hari.
Meski memiliki cadangan logam tanah jarang terbesar kelima di dunia, sebesar 6,9 juta metrik ton, India menyumbang kurang dari 1 persen pasokan global.