Pedang China Bernama Logam Tanah Jarang
- Earth Techling
Negara Asia Selatan ini kekurangan kapasitas pemurnian untuk pengolahannya untuk dapat digunakan dalam aplikasi berteknologi tinggi.
India juga bergantung pada ekspor China, yang juga menghadapi pembatasan. Meskipun New Delhi telah meningkatkan upaya untuk mendiversifikasi pasokan melalui kesepakatan dengan AS, Australia, dan negara-negara Asia Tengah, kemajuannya masih lambat.
Pada Juni 2025, New Delhi memerintahkan perusahaan tambang milik negara, IREL, untuk menghentikan ekspor mineral yang diproduksi domestik, termasuk ke Jepang, guna menjaga pasokan bagi produsen dalam negeri.
Pada 2024, IREL mengirim sepertiga dari 2.900 metrik ton logam tanah jarangnya untuk diproses di Jepang.
Sebanyak 44 juta ton cadangan logam tanah jarang dimiliki China, cadangan kolektif sekitar 31,3 juta ton laina dimiliki Brasil, India, dan Australia, menurut Survei Geologi AS. Sekitar 20 juta ton baru-baru ini ditemukan di Kazakstan.
"Begitu China mencabut kontrol ekspor, harga akan turun, dan situasi pasokan akan membaik. Tidak ada yang akan membicarakan [ketergantungan berlebihan pada China] lagi karena kemudian semuanya akan bergantung harga," ungkap Wübbeke.