Rekrutmen Dibuka Besar-besaran tapi PHK Jalan Terus, Begini Peta Pasar Kerja 2026

Ilustrasi melamar kerja.
Sumber :
  • freepik.com/yanalya

Jakarta, VIVA – Memasuki 2026, dinamika pasar tenaga kerja global kembali menjadi sorotan. Di satu sisi, perusahaan terlihat optimistis dengan rencana perekrutan karyawan baru, namun di sisi lain, ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) belum sepenuhnya mereda. 

img_title Storage iPhone Mendadak Boros? Fitur AI Diduga Jadi Biang Keroknya

Kondisi ini menciptakan paradoks yang menarik, ketika ekspansi dan efisiensi berjalan beriringan. Perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), turut memengaruhi cara perusahaan menyusun strategi sumber daya manusia. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

AI kerap disebut sebagai faktor utama perubahan struktur tenaga kerja, meski di balik itu terdapat pertimbangan finansial dan efisiensi operasional yang tak kalah besar. Laporan terbaru dari Resume.org memberikan gambaran lebih jelas mengenai arah kebijakan perekrutan dan PHK perusahaan pada 2026.

img_title PHK di Singapura Tembus 4.800 Orang, Tertinggi Sejak Akhir 2020

Menurut laporan tersebut, sebanyak 92 persen perusahaan menyatakan berencana merekrut karyawan pada 2026. Namun, di saat yang sama, 55 persen perusahaan juga mengantisipasi akan melakukan PHK. 

"Alasan utama PHK yang paling sering disebut antara lain AI sebesar 44 persen, reorganisasi atau restrukturisasi sebesar 42 persen, serta keterbatasan anggaran sebesar 39 persen," demikian sebagaimana dikutip dari HR Dive, Kamis, 15 Januari 2026.

img_title Buka Akses Teknologi, Puluhan Ribu Mahasiswa Lintas Jurusan Dibekali Ilmu Kuasai AI

Menariknya, hampir enam dari sepuluh perusahaan atau sekitar 59 persen mengaku membingkai PHK atau perlambatan perekrutan sebagai dampak AI. "Hal ini dilakukan karena lebih dapat diterima oleh para pemangku kepentingan dibandingkan mengatakan alasan sebenarnya adalah keterbatasan keuangan," lanjut laporan tersebut.

Ilustrasi PHK

Photo :
  • Freepik

Di tengah selektivitas yang meningkat, perusahaan menjadi semakin spesifik dalam mencari kandidat. Laporan mencatat bahwa 54 persen perusahaan menempatkan kemampuan pemecahan masalah sebagai salah satu dari tiga prioritas utama dalam perekrutan. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Selain itu, perusahaan juga mencari kandidat yang mampu mempelajari alat dan teknologi baru dengan cepat sebesar 44 persen, serta memiliki keterampilan komunikasi yang baik sebesar 43 persen. Hal ini menunjukkan bahwa meski teknologi berkembang pesat, kualitas sumber daya manusia tetap menjadi faktor krusial. Perusahaan tidak hanya mencari keahlian teknis, tetapi juga soft skills yang mendukung adaptasi dan kolaborasi.

Resume.org menyebut fenomena ini sebagai “The Great Turnover.” Survei terhadap 1.000 manajer perekrutan di Amerika Serikat yang dilakukan pada Desember 2025 menemukan bahwa sebagian besar perekrutan dan pengurangan tenaga kerja direncanakan terjadi pada awal 2026.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut