Trump Menyerang, China Tetap Tenang

Presiden AS Donald Trump bersama Presiden China Xi Jinping.
Sumber :
  • White House

Jakarta, VIVAChina menghadapi 'serangan sengit' di masa jabatan kedua Donald Trump menjadi presiden Amerika Serikat (AS).

img_title Xi Jinping dan Trump Bertemu Pekan Ini, Ini 11 Hal Penting yang Jadi Sorotan

Meski rivalitas ekonomi dan teknologi menguat, namun realitanya, kedua negara tetap bergantung satu sama lain.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Beberapa hari sebelum genap setahun masa jabatan kedua Presiden AS Donald Trump, China lebih dahulu memamerkan ketahanan ekonominya.

img_title Xi Jinping Disebut Diam-Diam Siapkan China untuk Perang Lawan AS

Sebagai kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia, China mencatat pertumbuhan sebesar 5 persen di sepanjang 2025, sesuai dengan target tahunan pemerintah.

Data lain yang dirilis pekan lalu juga menunjukkan surplus perdagangan yang mencapai rekor, hampir US$1,2 triliun (sekitar Rp18.800 triliun) dalam setahun. Surplus tersebut didorong oleh lonjakan ekspor ke negara-negara selain AS.

img_title Trump Ancam Bakal Hancurkan Iran jika Tak Jaga Sikap

Para analis menilainya sebagai bukti bahwa produk-produk China masih kompetitif secara harga di pasar global, dan sekaligus indikasi bahwa Beijing dinilai berhasil meredam dampak kebijakan dagang Trump.

"[Pemerintahan Trump] mungkin masuk ke Gedung Putih dengan keyakinan bahwa mereka bisa menggunakan daya ungkit ekonomi untuk mendorong China ke arah kebijakan tertentu,” kata Direktur Studi China dari Eurasia Group, Amanda Hsiao, seperti dikutip dari situs DW, Kamis, 22 Januari 2026.

Akan tetapi, lanjut dia, pada kenyataannya Beijing juga memiliki leverage atau instrumen daya ungkit sendiri yang kekuatannya sebanding dengan milik Washington DC.

Pendekatan Donald Trump terhadap China dalam periode keduanya dinilai lebih pragmatis, berbasis persaingan ekonomi dan teknologi, ketimbang ideologi.

Perubahan arah ini tercermin dalam Strategi Keamanan Nasional terbaru Amerika Serikat yang dirilis pada Desember 2025.

Tak lama setelah dilantik, Trump menerapkan tarif timbal balik terhadap sejumlah negara, termasuk mengobarkan kembali perang dagang dengan China, yang langsung dibalas Beijing.

Puncak sengketa perdagangan terjadi pada April 2025, dengan AS memberlakukan tarif hingga 145 persen pada barang-barang China.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kemudian, China merespons dengan menaikkan tarif balasan ke level yang sama, sekaligus memberlakukan pembatasan ekspor logam tanah jarang (rare Earth).

"Pada dasarnya, kedua pihak sudah mengokang senjata dan saling mengarahkannya satu sama lain. Tapi, kedua negara kemudian menyadari besarnya "rasa sakit bersama” yang ditimbulkan bagi perekonomian masing-masing," jelas Amanda Hsiao.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut