Harga Bitcoin Bergejolak, Indodax: Fundamentalnya Masih Kuat

Vice President Indodax Antony Kusuma.
Sumber :
  • Dokumentasi Indodax.

Jakarta, VIVA – Pelaku perdagangan aset kripto dalam negeri menyatakan fundamental industri aset digital saat ini masih kuat meskipun pasar aset kripto global sedang berada dalam fase volatilitas tinggi. Hal itu terjadi setelah Bitcoin (BTC) terkoreksi ke kisaran US$74.000 sebelum akhirnya rebound ke level 77.000 dolar AS.

img_title TOKEN2049 Singapore 2026, Industri Kripto Global Dinilai Terus Berkembang

Vice President Indodax Antony Kusuma menjelaskan, kombinasi antara eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah, penguatan dolar AS pasca-nominasi kepemimpinan baru Federal Reserve menjadi pemicu BTC mengalami koreksi tajam.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Meskipun pasar saat ini berada dalam fase ketakutan yang ekstrem, fundamental industri dinilai jauh lebih kokoh dibandingkan siklus serupa di tahun 2022," ujar dia dalam keterangannya di Jakarta, Rabu, 4 Februari 2026.

img_title OJK Siapkan Aturan Stablecoin pada 2027, Begini Dampaknya bagi Pengguna Aset Kripto

Dia menjabarkan bahwa Bitcoin sering kali menjadi salah satu aset pertama yang bereaksi terhadap kepanikan global. Karena sifat pasarnya yang beroperasi 24 jam sehari selama 7 hari. Fenomena ini tercermin dari risk-off sentiment yang terjadi secara serentak, di mana instrumen hard money tradisional seperti emas dan perak juga menyusul mengalami tekanan jual yang signifikan bersamaan dengan aset digital.

Namun, dia menegaskan data on-chain Glassnode menunjukkan anomali yang menarik di mana terdapat perbedaan perilaku yang kontras antara kelas investor kripto. "Saat investor ritel cenderung melakukan penjualan karena panik, kelompok 'Mega-Whales' atau pemegang lebih dari 1.000 Bitcoin justru terpantau melakukan akumulasi pembelian Bitcoin secara bertahap untuk menyerap pasokan pasar yang panik," ujarnya.

img_title Transaksi Kripto Tembus Rp171 Triliun, Industri Kripto Genjot Literasi

Menurut dia, kehadiran institusi besar seperti BlackRock dan JPMorgan yang telah terintegrasi dalam ekosistem melalui ETF dan infrastruktur perbankan memberikan bantalan yang lebih kuat terhadap risiko sistemik jangka panjang.

Karena itu sebagai langkah antisipasi, Antony mengimbau para investor kripto di Indonesia untuk tetap tenang dan tidak mengambil keputusan impulsif berdasarkan emosi sesaat. Penting bagi investor untuk mengevaluasi kembali manajemen risiko mereka.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Investor disarankan untuk tetap disiplin pada strategi investasi jangka panjang, mencermati dinamika pasar secara proporsional, serta terus membekali diri dengan riset mandiri.

"Kami berkomitmen untuk terus menyediakan platform yang transparan dan tepercaya guna mendukung seluruh pengguna dalam menghadapi dinamika ekonomi digital global ini," ujarnya. (Ant)

Bitcoin.

Mulai 2027, Transaksi Kripto di Luar Negeri Bisa Terlacak Otoritas Pajak RI

Mulai 2027, Indonesia bertukar informasi pajak kripto lintas negara melalui kerangka OECD. Simak cara kerja sistem dan jumlah pengguna aset digital di RI.

img_title
VIVA.co.id
15 Oktober 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut