ICDX Meramal Harga Minyak Mentah

Ilustrasi kilang minyak mentah.
Sumber :
  • Freepik

Jakarta, VIVA - Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) memperkirakan harga minyak mentah berkisar US$95-US$100 per barel pada 2026. Research and Development ICDX Girta Putra Yoga membeberkan alasannya.

img_title Harga Emas Hari Ini 27 Juli 2026: Antam Kinclong, Produk Global Meroket

"Melihat situasi dan perkembangan saat ini, kami memprediksi harga minyak mentah masih berpotensi kuat untuk melaju bullish hingga paruh kedua tahun ini. Level resistance diproyeksikan akan berada di kisaran harga US$95-US$100 per barel, dan level support di kisaran harga US$80-US$75 per barel," ungkapnya, akhir pekan lalu.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ia juga menyampaikan bahwa harapan penguatan harga minyak mentah global kembali terlihat pada awal tahun ini. Penegasan komitmen dari aliansi produsen Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) yang menyatakan bakal mempertahankan produksi sampai Desember 2026 menjadi katalis pemicu yang mengangkat kembali harga minyak mentah.

img_title Harga Minyak Mentah RI Diproyeksi Capai US$71 Per Barel di Juli, ESDM: Tergantung Pasar dan Geopolitik

Selain itu, ketegangan geopolitik yang mewarnai awal tahun. Mulai dari penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh militer AS, keinginan Presiden AS Donald Trump untuk mengakuisisi Greenland dari Denmark, serta dimulainya perang AS-Iran, mendorong harga minyak mentah kembali naik hingga menyentuh level US$90 per barel pada awal Maret, dari sebelumnya di level US$57 per barel pada awal Januari 2026.

Sementara itu, Girta menyebut 2025 menjadi tahun yang menantang bagi komoditas minyak mentah. Laju harga rata-rata "emas hitam" ini mencatatkan penurunan sebesar lebih dari 21 persen ke level US$60 per barel pada akhir penutupan tahun lalu, dibandingkan harga rata-rata di awal tahun ini yang mencapai level US$77 per barel.

img_title Harga Minyak Dunia Tembus Level Tertinggi 4 Pekan, Konflik AS-Iran di Selat Hormuz Kian Memanas

Pada paruh pertama tahun lalu, harga minyak mentah mengalami penurunan sebesar hampir 10 persen dengan harga rata-rata diperdagangkan di kisaran level US$69 per barel.

Pergerakan harga minyak mentah global dibayangi tekanan perang tarif yang diberlakukan Donald Trump terhadap China, serta beberapa mitra dagang utamanya seperti Kanada dan Meksiko.

Imbasnya, kata Girta, harga minyak mentah rata-rata terpantau bergerak bearish atau turun hingga menyentuh level US$62 per barel pada Mei 2025, sebelum akhirnya kembali menguat usai AS dan China menyepakati untuk melakukan jeda tarif selama 90 hari.

Harga disebut terus menguat hingga penutupan kuartal pertama tahun ini didukung oleh sinyal eskalasi konflik di Timur Tengah pasca rezim Israel melancarkan operasi "Rising Lion" ke Iran. Namun, dirinya mengungkapkan bahwa tren penguatan tersebut tak bertahan lama.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Memasuki pembukaan paruh kedua, ancaman tarif AS yang lebih tinggi meskipun sejumlah negara telah melakukan negosiasi dengan itikad baik, membuat laju minyak mentah kembali tertekan.

"Selain itu, isyarat kelompok aliansi OPEC+ untuk meningkatkan produksi, dan dimulainya fase pertama gencatan senjata Gaza pada bulan Oktober lalu membuat harga minyak mentah global bergerak bearish sepanjang paruh kedua tahun 2025. Harga rata-rata mengalami penurunan sebesar hampir 13 persen, dan diperdagangkan di kisaran level US$64 per barel," tegas Girta.

Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia

Bahlil soal Harga Pertamax Turun: Ikuti Harga Minyak Mentah Dunia

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan harga BBM nonsubsidi termasuk Pertamax akan terus mengikuti dinamika harga minyak mentah dunia.

img_title
VIVA.co.id
3 Agustus 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut