BI Maksimalkan Operasi Moneter Respons Rupiah Melemah ke Rp17.000 per Dolar AS

Logo Bank Indonesia.
Sumber :
  • REUTERS/Darren Whiteside/Files

Jakarta, VIVA – Nilai tukar rupiah masih tetap anteng di posisi di atas Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat (AS) hingga pagi ini. Pelemahan terjadi sejak awal pekan ini terdorong dampak dali geopolitik global.

img_title Rupiah Menguat Tipis di 3 November 2026, Ini Sentimen yang Menggerakkan Kurs

Merespons hal tersebut Bank Indonesia mengoptimalkan pemanfaatan seluruh instrumen operasi moneter yang dimiliki serta kebijakan operasi moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Di tengah ketidakpastian global yang sangat tinggi, maka saat ini stabilitas menjadi prioritas bagi Bank Indonesia,” kata Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti dalam keterangan resmi di Jakarta, dikutip, Rabu, 8 April 2026.

img_title BI Sebut Inflasi pada Oktober 2026 Terjaga Baik, Ini Faktor Penyebabnya

Destry menjelaskan bahwa BI secara konsisten dan terukur selalu berada di pasar uang, baik di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, maupun Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore. Dampak konflik Timur Tengah bersifat dua arah. Kenaikan harga komoditas dan posisi Indonesia sebagai negara eksportir dapat memberikan efek positif bagi perekonomian, sehingga mampu mengimbangi tekanan terhadap nilai tukar akibat eskalasi tersebut.

Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan hari Selasa melemah 70 poin atau 0,41 persen menjadi Rp17.105 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp16.980 per dolar AS. Sementara Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah ke level Rp17.092 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.037 per dolar AS.

img_title Rupiah Gagal Menguat Meski Neraca Dagang Surplus, Ini Penyebabnya

Dalam menghadapi ketidakpastian global akibat perang Timur Tengah, sebelumnya BI juga menyatakan untuk melakukan kalibrasi instrumen intervensi rupiah dengan menyesuaikan respons terhadap tiga skenario dampak perang yaitu jika harga minyak dunia tidak terlalu tinggi, menengah dan tinggi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sebelumnya, Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan upaya tersebut juga diperkuat dengan menjaga cadangan devisa dan respons kebijakan suku bunga. “Kami terus mengoptimalkan di moneter tiga instrumen intervensi dengan kecukupan cadangan devisa dan diperkuat dengan kebijakan suku bunga,” kata Perry dalam konferensi pers hasil RDG BI secara daring di Jakarta, Selasa (17/3).

Bank sentral memandang bahwa kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) perlu terus diperkuat sehingga dapat memitigasi dampak perang Timur Tengah. Berbagai upaya untuk memperkuat kinerja neraca pembayaran juga diharapkan dapat mendukung stabilitas nilai tukar rupiah.

Ilustrasi rupiah dan dolar AS.

Rupiah Melemah ke Rp18.156 per Dolar AS, Pasar Cermati Konflik AS-Iran hingga Inflasi Pangan Dalam Negeri

Rupiah ditutup melemah ke Rp18.156 per dolar AS pada Selasa (3/11/2026). Pengamat Mata Uang Ibrahim Assuaibi memproyeksikan rupiah bergerak hingga Rp18.210 besok.

img_title
VIVA.co.id
3 November 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut