Jarang Terjadi! Saham BCA Undervalued, Analis Prediksi Harganya Bakal Lari
- Stockbit Sekuritas
Jakarta, VIVA – Harga saham PT Bank Central Asia (BBCA) dinilai sedang berada dalam kondisi undervalued di tengah kinerja keuangan yang tetap solid. Saat harga saham BBCA sedang diskon, analis melihat kondisi ini peluang menarik bagi investor sejalan proyeksi lonjakan saat pasar kembali normal.
Sepanjang tahun 2025, emiten perbankan swasta ini mencatat laba bersih tumbuh 4,9 persen secara year on year (yoy) menjadi Rp 57,5 triliun dari Rp 54,8 triliun. Capaian ini karena perseroan memiliki fundamental kuat terutama dari sisi kinerja keuangan yang terus tumbuh berkelanjutan.
Berbanding terbalik dengan kinerja keuangan, harga saham BBCA justru mengalami tekanan cukup dalam sejalan dengan tekanan pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang turun sekitar 15,79 persen secara year to date (ytd). Dari awal tahun hingga awal bulan April 2026, saham BBCA terkoreksi sekitar 19 persen dan pergerakannya tertahan di kisaran Rp 6.500 atau jauh di bawah level psikologis Rp 7.000
Analis pasar modal, Rendy Yefta, mengatakan kondisi saham BBCA saat ini sebagai anomali yang jarang terjadi terutama pada saham berkapitalisasi besar. Ia menyampaikan fenomena langka ini menjadi salah satu sinyal beli untuk para investor mengeoleksi saham bluechip.
“Ini adalah fenomena undervalued yang sangat langka untuk saham sekelas kasta tertinggi (bluechip super). Mengambil BBCA di harga di bawah Rp7.000 ibarat Anda memungut Mercy di showroom dengan harga Avanza,” ungkap Rendy dikutip dari keterangan tertulis, Jumat, 10 April 2026.
Ilustrasi Investasi
- pexels.com/Leeloo The First
Rendy mengibaratkan diskon saham BBCA seperti bom waktu capital gain yang tinggal menunggu pemicunya meledak. Saat kepanikan pasar mereda, kata Rendy, harga saham BBCA tidak akan berjalan merangkak tetapi berlari kencang kembali menuju normalisasi valuasinya di level Price to Book Value (PBV) 4 kali.
Secara historis, pasar menempatkan saham BBCA pada valuasi premium dengan rasio Price to Book Value (PBV) di kisaran 4 hingga 5 kali. Saat ini, valuasi tersebut tertekan sehingga membuka ruang kenaikan ketika kondisi pasar kembali normal.
Ia memperkirakan potensi capital gain dinilai cukup besar bagi investor yang masuk pada harga saat ini. Selain itu, investor juga diminta mencermati rilis kinerja kuartal I-2026 yang akan segera dipublikasikan.