Bisnis Reality Labs Milik Mark Zuckerberg Boncos Rp69 Triliun di Kuartal I-2026

Meta Platforms Inc
Sumber :
  • Magazyn

Jakarta, VIVA – Ambisi besar Meta Platform Inc untuk membangun dunia metaverse kembali menghadapi kenyataan pahit. Di tengah agresivitas perusahaan dalam menggelontorkan dana ke pengembangan kecerdasan buatan (AI), Reality Labs yang merupakan lini bisnis induk Facebook ini terus mencatat kerugian besar mencapai miliaran dolar.

img_title BSN Catat Laba Naik 40 Persen di Momen Satu Tahun Transformasi Kelembagaan, Intip Sumber Cuannya

Dalam laporan keuangan kuartal I-2026 dikutip dari CNBC Internasional, Reality Labs membukukan kerugian operasional sebesar US$4,03 miliar atau setara sekitar Rp69,4 triliun (estimasi kurs Rp 17.350 per dolar AS). Sementara itu, pendapatan perusahaan tercatat senilai US$402 juta atau sekitar Rp 6,97 triliun.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Jumlah ini sedikit lebih baik dibandingkan proyeksi analis Wall Street yang memperkirakan kerugian mencapai US$4,82 miliar. Sedangkan pendapatan perusahaan diproyeksi sebesar US$488,8 juta.

img_title Sering Tanya ChatGPT untuk Semua Hal? Waspadai Dampaknya pada Cara Berpikir

Reality Labs merupakan divisi yang mengembangkan teknologi virtual reality (VR), augmented reality (AR), serta perangkat wearable. Sejak akhir tahun 2020, unit ini telah mengakumulasi kerugian operasional lebih dari US$80 miliar. 

Ilustrasi Uang

Photo :
  • www.freepik.com

img_title Dua Hal Ini Jadi Kekuatan di Balik Bank Berbasis Teknologi

Pengembangan lini bisnis bagian dari transformasi besar-besaran yang dilakukan CEO Meta Platform, Mark Zuckerberg, pada tahun 2021. Ia juga mengubah nama Facebook menjadi Meta dengan alasan keyakinannya bahwa aktivitas kerja dan hiburan akan beralih ke dunia virtual.

Sayangnya, optimisme seolah pudar sejak ledakan teknologi AI generatif yang dipicu oleh kemunculan ChatGPT pada akhir tahun 2022. Sejak saat itu, Meta dinilai tertinggal dalam persaingan AI dibandingkan pemain besar seperti OpenAI, Anthropic, dan Google.

Untuk mengejar ketertinggalan tersebut, Meta mengalihkan fokus investasinya ke pengembangan infrastruktur AI, model baru, serta layanan berbasis kecerdasan buatan. Di sisi lain, Reality Labs justru mengalami pengetatan anggaran.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pada Januari 2026, Meta melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sekitar 1.000 karyawan Reality Labs. Langkah ini diambil untuk mengalihkan sumber daya dari proyek VR ke pengembangan perangkat wearable berbasis AI, menyusul kesuksesan tak terduga dari kacamata pintar Ray-Ban Meta smart glasses yang dikembangkan bersama EssilorLuxottica.

Gelombang efisiensi berlanjut pada Maret 2026, ketika Meta kembali memangkas ratusan karyawan di berbagai divisi, termasuk Reality Labs, Facebook, operasional global, rekrutmen, dan penjualan. Bahkan, perusahaan mengumumkan rencana untuk memangkas sekitar 10 persen dari total tenaga kerjanya atau sekitar 8.000 karyawan, serta menghentikan perekrutan untuk 6.000 posisi yang masih terbuka.

Kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

AI Mulai Mengubah Cara Pabrik Bekerja, Tugas Berjam-jam Kini Bisa Selesai dalam Hitungan Menit

Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) selama ini lebih dikenal lewat chatbot yang mampu menjawab pertanyaan hingga membantu membuat pekerjaan.

img_title
VIVA.co.id
20 Agustus 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut