Rusia: Uni Eropa lagi Merana
- ANTARA/Xinhua/Zhao Dingzhe/aa
Jakarta, VIVA - Rusia menyebut kalau Uni Eropa (UE) mengalami kesulitan untuk mengisi fasilitas penyimpanan gas alam bawah tanahnya di tengah krisis Timur Tengah dan kenaikan harga yang pesat.
Hal tersebut berdasarkan laporan Perusahaan gas alam milik negara Rusia, Gazprom, dari asosiasi Gas Infrastructure Europe (GIE), seperti dikutip dari situs Russia Today, Senin, 18 Mei 2026.
Menurut Gazprom, Uni Eropa telah mengisi fasilitas penyimpanan gas alam bawah tanahnya dengan laju terendah sepanjang sejarah selama tiga hari berturut-turut minggu ini.
Uni Eropa sedang bergulat dengan dampak serangan AS-Israel terhadap Iran, yang telah menyebabkan kekurangan energi global dan lonjakan harga. Situasi ini terutama terkait dengan kebuntuan di Selat Hormuz, yang tetap terganggu meskipun gencatan senjata yang rapuh mulai berlaku pada awal April 2026.
Berkurangnya lalu lintas maritim telah sangat membatasi pasokan energi karena jalur air tersebut menangani sekitar 20 persen perdagangan gas alam cair atau LNG global sebelum konflik, yang terutama menuju pasar Eropa dan Asia.
Pada pekan ini, GIE mencatat tingkat pengisian penyimpanan gas alam Eropa terendah sepanjang sejarah selama tiga hari. Selain konflik Iran, cuaca dingin yang tidak biasa di Eropa juga berkontribusi pada angka terendah dalam sejarah tersebut, menurut raksasa minyak Bumi dan gas alam Rusia itu.
Awal pekan ini, Institut Ekonomi Energi dan Analisis Keuangan (IEEFA) melaporkan lonjakan tajam impor gas alam cair (LNG) Rusia ke Uni Eropa. Lembaga kajian industri tersebut melaporkan bahwa pengiriman, yang telah berulang kali dijanjikan oleh blok tersebut untuk dihentikan secara bertahap, melonjak sekitar 16 persen pada kuartal I 2026.
Menurut IEEFA, Belgia, Prancis, dan Spanyol menyumbang sebagian besar impor. Meskipun Uni Eropa bertujuan untuk menghapus bahan bakar fosil Rusia pada 2027, negara tersebut tetap menjadi pemasok LNG terbesar kedua, kata lembaga tersebut.
Permusuhan di Timur Tengah juga telah menghambat upaya Uni Eropa untuk mendiversifikasi impor, dan Uni Eropa kini semakin bergantung pada pasokan LNG Amerika Serikat (AS) dan Rusia.