Misbakhun Sebut Penurunan Rupiah Tidak Separah Tahun 1998, Simak Perbandingannya

Ketua Komisi XI DPR RI Mukhammad Misbakhun
Sumber :
  • Yeni Lestari/VIVA

Jakarta, VIVA – Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun mengatakan, penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS saat ini, tidak dapat langsung disamakan dengan kondisi krisis ekonomi pada tahun 1998 silam.

img_title Strategi Pemerintah Capai Ekonomi 6 Persen, Airlangga: Investasi Tumbuh Lebih Cepat dari PDB

Hal itu disampaikan Misbakhun dalam sesi "1 on 1 Legislative with Mukhamad Misbakhun", dalam Jogja Financial Festival 2026 yang digelar Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) di Jogja Expo Center, Yogyakarta.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Kita harus yakinkan kepada masyarakat Indonesia bahwa nilai rupiah atas dolar AS Rp17.800 itu memang sebuah fenomena. Angka yang sangat tinggi untuk saat ini, namun ingat rupiah saat ini mungkin pernah menyamai krisis 1998," kata Misbakhun, Sabtu, 23 Mei 2026.

img_title Rupiah Melemah ke Rp 17.697 usai Laporan soal Defisit Neraca Transaksi dan Kredit Perbankan Juli 2026

Rupiah melemah terhadap dolar AS.

Photo :
  • ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/YU/aa

Menurutnya, pelemahan rupiah pada 1998 terjadi dari titik awal, dan struktur ekonomi yang berbeda dibandingkan kondisi saat ini.

img_title DEB Dorong Kemandirian Penyandang Disabilitas di Boyolali, Ketika Keterbatasan Tidak Jadi Penghalang

"Rupiah Rp 17.500, Rp 17.800 saat krisis 1998 itu berangkat dari angka Rp 2.400. Rupiah sekarang berada pada level Rp 16.600, itu berangkat dari Rp 16.000 sekian. Situasi struktur ekonomi kita sudah berbeda," ujarnya.

Misbakhun mengatakan, pada 1998 banyak sektor mengalami tekanan berat, antara lain karena pinjaman dalam denominasi valuta asing dan praktik lindung nilai yang tidak memadai.

Dia menilai kondisi saat ini berbeda, karena tekanan terhadap rupiah tidak serta-merta membuat sektor perbankan maupun swasta mengalami kegagalan seperti pada masa krisis 1998.

"Sekarang rupiah Rp17.600, belum ada perbankan atau swasta yang mengalami kegagalan. Tantangan saat ini bukan hanya menjaga stabilitas ekonomi, tetapi juga membangun pemahaman publik agar tidak mudah terpengaruh sentimen yang berkembang di media sosial," kata Misbakhun.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurutnya, persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi dapat terbentuk dari informasi yang tidak selalu menggambarkan keadaan secara utuh.

"Sentimen kita itu ditentukan sekarang oleh media sosial. Cara pandang kita dipengaruhi oleh apa yang kita lihat di media sosial," ujarnya. (Ant).

Ilustrasi perubahan iklim.

Guru Besar Ungkap 3 Ancaman yang bikin Pasokan Pangan Dunia Krisis

Guru Besar Universitas Guelph, Kanada, Evan Fraser, menyebutkan ada tiga hal yang mengancam pasokan pangan global: konflik, perubahan iklim, dan penurunan hasil panen.

img_title
VIVA.co.id
24 Agustus 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut