Kembali ke Batu Bara
- VIVA.co.id/Mohammad Yudha Prasetya
Meski begitu, Merz mendapat dukungan dari sejumlah analis energi. Salah satunya Jakob Schlandt dari Hamburg Institut. Menurut Schlandt, ketergantungan pada impor energi fosil merupakan "kelemahan strategis” yang harus diatasi.
Ia menegaskan, pernyataan itu bukan berarti mendukung pembangkit listrik batu bara. Energi terbarukan memang bisa mengurangi ketergantungan tersebut, tetapi prosesnya tidak bisa berlangsung secepat yang diharapkan. "Kita tidak bisa beralih ke 100 persen pompa panas dalam semalam,” ujarnya kepada stasiun televisi NTV.
Kesepakatan penghentian pembangkit listrik batu bara pada 2038 sendiri merupakan hasil kompromi panjang antara pemerintah pusat dan pemerintah negara bagian pada 2020.
Selama ini, kesepakatan itu tidak pernah dipersoalkan oleh pemerintah mana pun. Pendekatan yang lebih hati-hati ini juga memicu kekhawatiran Dewan Iklim Jerman, badan independen yang beranggotakan lima pakar dan bertugas memberi nasihat kepada pemerintah.
Dalam laporan awal pekan ini, dewan tersebut memperingatkan bahwa Jerman berisiko gagal mencapai target iklim untuk 2030 maupun 2040. Salah satu penyebabnya adalah perubahan dalam undang-undang sistem pemanas.
Pemerintah menargetkan pengurangan emisi gas rumah kaca sekitar 65 persen pada 2030 dan 88 persen pada 2040. Hingga saat ini, penurunan emisi baru mencapai sekitar 48 persen.