PGS BI Destry Beberkan Strategi Hadapi Era Suku Bunga Tinggi di Dunia

Inilah yang Dibahas Destry Damayanti Saat Bertemu Prabowo di Istana
Sumber :

Parapat, VIVA – Pejabat Gubernur Sementara Bank Indonesia Destry Damayanti menilai dunia masih akan ada di era suku bunga tinggi. Hal tersebut ditandai oleh sinyal hawkish yang tersirat dalam pernyataan etinggi bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve beberapa waktu lalu.

img_title AS-Iran Memanas, Rupiah Terancam Tembus Rp18.000 per Dolar AS

Destry menilai, sinyal tersebut tetap kuat meskipun Fed menyatakan tidak akan menaikan suku bunga acuannya atau Fed Fund Rate dalam waktu dekat. Sehingga menjadi tantangan tersendiri yang disoroti.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Aritnya di global mereka akan hadapi situasi higher for longer. Maksudnya situasi tinggi baik suku bunga yield bonds atau termasuk inflasinya jadi situasi ini akan beri dampak negara lain khususnya emerging market dan secara lebih spesifik di Indonesia," ujar Destry saat diskusi bersama media sacara daring, di Parapat, Jumat, 31 Juli 2026.

img_title Rupiah Menguat Tipis ke Rp17.955 per Dolar AS, Pasar Kembali Pantau Level Rp18.000

Selain era suku bunga tinggi, ada pula masih memanasnya konflik di Timur Tengah saat ini. Sebab, akan memengaruhi harga komoditas dunia, khususnya minyak mentah.

"Konflik (Timur Tengah) belum selesai akibatkan arus barang terganggu, harga minyak mentah, inflasi dan sukbung tinggi sehingga itu berdampak ke kita," tegasnya.

img_title Rupiah Kembali Melemah ke Rp17.915 per Dolar AS Hari Ini 1 Oktober 2026, Dekati Rp18.000 Lagi

Untuk menghadapi tantangan-tantangan tersebut dia mengatakan, fokus BI saat ini adalah menjaga stabilitas rupiah dan inflasi, daik dampaknya ke daya beli maupun nilai tukar. Dengan demikian diharapkan ekonomi nasional terus bisa tumbuh.

"Tantangan yang dalan jangka pendek dan betul-betul harus jadi perhatian kami. Fokusnya stabilisasi," ungkapnya.

Seblumnya Destry mengatakan,  stabilitas menjadi prioritas utama BI saat ini di tengah gempuran sentimen global yang bergejolak saat ini. Ada dua hal yang menjadi jadi prioritas, yaitu rupiah dan inflasi. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dia pun memastikan bahwa pengunduran Gubernur BI Perry Warjiyo yang terjadi awal pekan ini pun tidak mengendorkan fungsi dan peran BI dalam menjaga stabilitas tersebut. 

"Intinya dengan formasi kami sekarang, kami akan tetap komitmen, di mana stabilitas saat ini untuk rupiah dan inflasi itu jadi prioritas kami," ungkapnya.

Ilustrasi rupiah dan dolar AS.

Rupiah Perkasa ke Rp17.882, Pasar Mulai Pangkas Ekspektasi Kenaikan Bunga The Fed

Rupiah sore hari ini menguat ke Rp17.882 per dolar AS setelah ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed turun menyusul data inflasi AS yang lebih rendah.

img_title
VIVA.co.id
2 Oktober 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut