Ekosistem Kripto dan Blockchain Bisa Diperkuat Pemahaman Quantum Computing, Ini Penjelasannya

Aset kripto.
Sumber :
  • wikimedia

Jakarta, VIVA – Perkembangan quantum computing dinilai menjadi salah satu isu strategis yang perlu mulai dipahami oleh ekosistem blockchain, termasuk kripto. Karena belakangan teknologi ini bisa berbahaya terutama dari sisi keamanan kriptografi dan pengembangan infrastruktur. Namun, quantum computing juga bisa dimanfaatkan. 

img_title Bukan Cuma Samsung dan Xiaomi, Deretan HP Baru Ini Berpotensi Mengubah Persaingan Pasar Indonesia

Chief Marketing Officer Indodax, Aloysia Dian, mengatakan bahwa pembahasan mengenai quantum computing perlu dipandang sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem blockchain. Khususnya yang saat ini semakin matang dan siap menghadapi perkembangan teknologi di masa depan. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Perkembangan teknologi selalu menghadirkan tantangan sekaligus peluang. Meskipun quantum computing masih berada pada tahap riset dan pengembangan, potensinya terhadap sistem kriptografi telah menjadi perhatian komunitas global. Karena itu, penting bagi seluruh pelaku industri untuk mulai memahami arah perkembangan ini agar ekosistem dapat beradaptasi secara bertahap melalui diskusi dan edukasi,” ungkap Aloysia dikutip dari keterangannya, Rabu, 5 Agustus 2026.

img_title Dana Korban Rp2,47 Triliun Belum Kembali, Bareskrim Sita Aset PT DSI hingga Rp500 Miliar

Di Indonesia, upaya memperkuat pemahaman terhadap perkembangan quantum computing sudah mulai dibahas. Ini menjadi salah satu fokus dalam acara ETH Genesis: Quantum Leap. Forum ini mempertemukan komunitas, pengembang, pelaku industri, dan akademisi dalam mendiskusikan tantangan serta peluang bagi masa depan ekosistem blockchain.

Menurutnya, selama satu dekade terakhir Ethereum telah menjadi fondasi bagi berbagai inovasi di ekosistem Web3, mulai dari decentralized finance (DeFi), NFT, berbagai aplikasi berbasis smart contract, hingga tokenisasi aset. Seiring berkembangnya teknologi, ekosistem blockchain dan pelaku industri juga dituntut untuk terus meningkatkan standar keamanan dan membangun infrastruktur yang semakin adaptif terhadap tantangan juga peluang di masa depan.

img_title Dari Simulasi hingga Backtesting, Begini Cara Menguji Strategi Trading di Era Digital

Ia menuturkan bahwa pembahasan mengenai quantum computing bukan berarti teknologi tersebut telah menjadi ancaman langsung bagi blockchain saat ini. Potensi risiko yang banyak dibahas para peneliti dan pengembang lebih mengarah pada kemampuan komputer kuantum di masa depan untuk memecahkan sistem kriptografi yang digunakan dalam pengamanan aset digital apabila teknologinya telah mencapai tingkat kematangan tertentu.

“Hingga saat ini, quantum computing masih berada dalam tahap riset dan pengembangan. Ke depan, teknologi ini berpotensi dimanfaatkan untuk mempercepat berbagai proses komputasi yang kompleks dan mendorong lahirnya inovasi di berbagai sektor, termasuk kripto. Di saat yang sama, komunitas blockchain global juga terus melakukan riset dan mengembangkan pendekatan baru agar ekosistem tetap aman seiring perkembangan teknologi tersebut,” jelas Aloysia.

Ia menambahkan bahwa kesiapan menghadapi perubahan teknologi tidak dapat dibangun secara instan. Sehingga, dibutuhkan kolaborasi antarpelaku industri agar inovasi dapat terus berkembang tanpa mengabaikan aspek keamanan.

“Membangun ekosistem blockchain yang siap menghadapi era komputer kuantum bukanlah proses yang sederhana. Dibutuhkan waktu untuk riset dan pengujian, pengembangan standar keamanan baru, serta kolaborasi lintas ekosistem agar transisi dapat dilakukan secara bertahap dan tetap menjaga kepercayaan pengguna,” tambahnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Melalui inisiatif tersebut, Indodax berupaya untuk mendorong literasi dan diskusi mengenai masa depan blockchain dan kriptografi di tengah perkembangan quantum computing. Forum tersebut membahas implikasi teknologi komputasi kuantum terhadap blockchain, kesiapan membangun ekosistem yang lebih tangguh, serta pentingnya kolaborasi dalam mempersiapkan fondasi teknologi untuk jangka panjang.

Dia berharap pembahasan mengenai aset kripto tidak hanya berfokus pada dinamika harga, tetapi juga mendorong pemahaman yang lebih luas mengenai perkembangan teknologi dan sistem keamanan yang menjadi fondasi industri. Edukasi, riset, serta kolaborasi dinilai menjadi kunci untuk membangun ekosistem aset digital Indonesia yang semakin matang, aman, dan berkelanjutan.

Paparan Kinerja Keuangan Bank Mandiri

Aset Bank Mandiri Tembus Rp2.404 T, Tumbuh 20,1% di Q3 2026

Bank Mandiri membukukan laba bersih konsolidasi Rp45,5 triliun hingga kuartal III 2026, tumbuh 20,7 persen secara tahunan atau year on year (YoY). Baca selengkapnya

img_title
VIVA.co.id
24 Oktober 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut