Sri Mulyani Punya Semua Data Uang Pengusaha

Sosialisasi Amnesti Pajak
Sumber :
  • VIVA.co.id/Ikhwan Yanuar

VIVA.co.id - Nama Sri Mulyani kembali menjadi bahan perbincangan, setelah Presiden Joko Widodo (Jokowi) menempatkan wanita tersebut sebagai Menteri Keuangan, menggantikan Bambang Brodjonegoro.

Ada Tax Amnesty, Ditjen Pajak Tetap Periksa WP Nakal

Sri hari ini, Senin, 1 Agustus 2016, didaulat menjadi salah satu pembicara dalam sosiasliasai program pengampunan pajak atau Tax Amnesty, yang dihadiri Jokowi serta sejumlah kabinet kerja, termasuk Kapolri Jenderal Tito Karnavian.

Bertempat di Jakarta International Expo, Kemayoran, Jakarta, Sri mengaku di hadapan ribuan ‎masyarakat, sangat senang kembali ke Indonesia.

Wapres Imbau Produsen Otomotif Manfaatkan Tax Amnesty

"Saya pulang ke Indonesia enak banget, apalagi punya Presiden Pak Jokowi‎," ungkap Sri, disambut tepuk tangan ribuan masyarakat.

Sri memang sempat hijrah ke negeri Paman Sam, karena pada 1 Juni 2010 hingga 27 Juli 2016 lalu, jebolan kampus Universitas Indonesia ini dinobatkan sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia.

Sukseskan Tax Amnesty, OJK Perlonggar Syarat Modal Sekuritas

Kini, Sri kembali ke Indonesia. Dia pun mengaku senang menjadi pembantu Presiden Jokowi.

Hanya saja, meski kembali menjadi seorang Menkeu, Sri mengaku, untuk kegiatan penjelasan dan sosialisasi tax amnesty tak perlu panjang lebar. Sebab, Jokowi telah membeberkan penjelasan teknis pengampunan pajak.

Sri sendiri menyayangkan banyaknya uang milik masyarakat Indonesia, khususnya para pengusaha, disimpan tidak di dalam negeri, melainkan di luar negeri.

Hanya saja, kata dia, uang yang disimpan di luar negeri dapat diketahuinya. Dan para pengusaha yang ahli menyimpan dan menghindari bisa diketahui.

"Pengusaha ahli menghindarkan, ahli betul. Untungnya, Menteri Keuangan yang sekarang sudah cukup ahli juga," ujar Sri.

Sri memang menganjurkan kepada masyarakat yang menyimpan uang di luar negeri untuk mengambil dan menyimpan di dalam negeri.

Sebab, ‎negara-negara yang tergabung dalam G-20 dan Organisation for Economic Co- operation and Development (OECD) sepakat membuka semua data keuangannya masing-masing.

"Jadi, mau taruh uang di bawah bantal, di bawah kasur atau keluar negeri, kami punya datanya lengkap," ucapnya. (ase)

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya