Gabriel Batistuta, Sang Dewa yang Dicerca dan Dihina
Benar saja, Bielsa mampu menggembleng Batistuta. Bak seorang ayah, Batistuta begitu menghormati Bielsa yang dikenal keras saat menangani sebuah tim.
"Dia adalah orang yang mengajari saya cara berlatih di bawah hujan. Ia mengajari saya segalanya. Ia mengubah saya secara fisik, memberi semangat, dan mengatur jalan seorang pemain menuju kesuksesan," kata Batistuta dalam buku autobiografi yang ditulis oleh Oscar Mangione.
![]()
Apa yang ditanamkan Bielsa membuat Batistuta menjadi seorang yang gigih dan berpikir maju untuk masa depan kariernya. Benar saja, setelah satu musim berseragam Newell's, Batistuta sempat direkrut oleh dua klub elite, River Plate (1989), dan Boca Juniors (1990).
Bersama Boca, Batistuta mulai menunjukkan ketajamannya. 19 gol berhasil dibuatnya dalam 42 laga di semua ajang. Batistuta juga jadi bagian penting saat Boca menjadi juara Torneo Clausura 1991.
Kesuksesan bersama Boca, ternyata jadi gerbang bagi Batistuta untuk masuk ke Serie A, liga nomor wahid di dunia saat itu. Fiorentina pun datang meminangnya. Ada alasan kuat mengapa La Viola begitu kepincut ingin mendatangkan Batistuta. Performa apik bersama Boca membuatnya masuk dalam skuat Timnas Argentina di Copa America 1991.Â
Tantangan di level internasional langsung dijawabnya dengan membawa Argentina juara, dan menjadi top scorer di ajang tersebut.Â
Cinta, Cerca, dan Juara
Bicara Batistuta, pasti langsung dikaitkan dengan Fiorentina. Bagaimana tidak, bersama klub asal kota Florence ini nama Batistuta semakin harum dan semakin dipuja. Tak cuma oleh publik kota Florence, tapi juga di jagat raya.
14 gol dalam 30 laga langsung dibuatnya pada musim perdana. Kegarangan Batistuta yang saat itu berambut gondrong kian menjadi di musim kedua, dengan catatan 19 gol dalam 35 laga. Sayang, musim 1992/1993 jadi kisah kelam bagi Fiorentina dan Batistuta. Sebab, Fiorentina hanya finis di posisi 16 dan harus terdegradasi ke Serie B.
Tak perlu waktu lama bagi Fiorentina untuk kembali ke kompetisi kasta teratas. Punya predator haus gol seperti Batistuta, Fiorentina akhirnya kembali ke Serie A musim 1994/1995, setelah menjadi juara Serie B 1993/1994.
Setelah itu, Batistuta sempat meraih gelar Capocannoniere musim 1994/1995. Ia juga membawa Fiorentina menjadi juara Coppa Italia 1995/1996, setelah mengalahkan Atalanta dengan skor agregat 3-0 dalam laga final. Gelar lainnya disumbang Batistuta lagi di ajang Supercoppa Italia 1996.