Begini Teknologi Nuklir Untungkan Petani RI

Ilustrasi Petani.
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Yusran Uccang

VIVA.co.id – Radiasi nuklir punya banyak manfaat untuk terapan tanaman pangan. Salah satunya fokus mendapatkan bibit unggul sehingga menciptakan produktivitas tanaman.

img_title Melonjak 12 Persen, Program Pestani Bikin Petani Nganjuk Panen Bawang Merah 20 Ton Per Hektare

Badan Teknologi Nuklir Nasional (Batan) sudah sejak lama menginisiasi inovasi pemuliaan mutasi tanaman (mutation breeding) menggunakan radiasi nuklir. Alhasil, produk yang bibitnya diradiasi produktivitasnya meningkat dari bibit normal.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Misal padi 5-6 ton per hektare, kita (pemuliaan mutasi) bisa 9 ton per hektare. Jarak tanam, misal Pandan Wangi 4 bulan, kita ubah jadi Pandan Putri (setelah radiasi), bisa panen dalam 3 bulan," jelas Peneliti Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR), Batan, Soeranto Human, di Gedung Batan, Pasar Jumat, Jakarta, Jumat 6 Oktober 2017.

img_title 100 Lebih Mahasiswa Universitas Bangka Belitung Diberikan Beasiswa Kelapa, Apa Maksud dan Tujuannya

Soeranto menegaskan, dengan varietas padi diradiasi tentunya akan menambah pendapatan bagi petani, di tengah mulai terjadinya krisis lahan pertanian. Manfaat lainnya, meningkatkan ketahanan pangan masyarakat Indonesia, dengan produktivitas meningkat dan waktu panen singkat.

Pemuliaan tanaman dengan nuklir, awalnya melalui fase radiasi nuklir yaitu sinar gamma. Radiasi tersebut menyasar DNA tanaman, lalu susunan kimia berubah akibat radiasi. Sehingga sasaran pada tananan bisa memendekkan batang atau sebaliknya, memendekkan umur, meningkatkan produksi biji, kadar minyak dan lainnya.

img_title Kementan Minta Tambah Anggaran Rp5 Triliun untuk Kesejahteraan Petani hingga Daya Saing Ekspor

Produktivitas dan keunggulan bibit bisa disesuaikan dengan jenis tanaman. Misal, tanaman padi yang dibutuhkan adalah batang pendek agar tidak runduk dan umur yang pendek agar cepat panen.

Petani makin sedikit 

Riset Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia belum lama ini menunjukkan jumlah petani di tanah air mulai menurun. Profesi petani tidak diminati oleh para pemuda sebagai generasi penerus.

Sementara saat ini, menurut riset LIPI, rata-rata usia petani nasional mayoritas berumur 45 tahun ke atas. Rata-rata usia petani di tiga desa pertanian padi di Jawa Tengah mencapai 52 tahun. Namun, kaum muda yang bersedia melanjutkan usaha tani keluarga di sana hanya sekitar tiga persen.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

LIPI mengungkapkan, para pemuda kebanyakan mengadu nasib ke kota, sebab menjadi petani tidak menjanjikan bagi kelangsungan hidup mereka.

Sementara, menurut data Food and Agriculture Organization atau organisasi pangan di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa, pada 2014 pangan nasional dan global diproduksi masing-masing oleh 90 persen dan 80 persen pertanian keluarga skala kecil.

Pengamanan aksi unjuk rasa Dewan Pengurus Pusat Serikat Petani Indonesia (DPP SPI) di kawasan DPR RI Senayan

Kawal Aksi Petani di Gedung DPR, Sebanyak 448 Polisi Dikerahkan

Sebanyak 448 personel Polres Metro Jakarta Pusat diterjunkan untuk mengamankan penyampaian aspirasi Dewan Pengurus Pusat Serikat Petani Indonesia (DPP SPI) di DPR.

img_title
VIVA.co.id
14 September 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut