2018, Siap-siap Hadapi Ransomware Ganas

Ilustrasi virus komputer.
Sumber :
  • Pixabay/geralt

VIVA – Insiden keamanan siber yang terjadi sepanjang 2017 dinilai menjadi cermin bagi pemerintah. Insiden selama tahun ini menandakan pemerintah agar lebih serius memperhatikan isu keamanan siber.

img_title Serangan Siber Berubah di Era AI, Phishing hingga Ransomware Kini Lebih Sulit Dideteksi

Tercatat banyak peristiwa luar biasa keamanan siber terjadi di tanah air. Indonesia Security Incident Response Team on Internet Infrastructure/Coordinator Center (Id-SIRTII/CC) mencatat sampai November 2017, Indonesia mendapat sebanyak 205.502.159 serangan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pada awal Februari 2017, publik tanah air dikagetkan dengan usaha peretasan situs KPU saat proses perhitungan suara Pilkada DKI putaran pertama. Tak kalah menghebohkan adalah peretasan pada website Telkomel dan Kejaksaan masing-masing terjadi pada Maret dan April 2017.

img_title Mobil Anda Bisa Dikunci Hacker dari Jarak Jauh, Ini Ancamannya di 2026

Serangan keamanan siber terjadi lagi pada Mei. Seluruh dunia termasuk di Indonesia mengalami serangan ransomware Wannacry. Selang beberapa bulan ransomware dengan model yang hampir sama bernama Nopetya juga ikut menyerang.

Mengingat banyaknya insiden itu, pakar keamanan siber Pratama Persadha menuturkan, salah satu yang patut dilihat adalah fenomena keamanan siber ini telah berdampak pada pengguna individu. Menurutnya pada titik ini peran pemerintah untuk mengedukasi masyarakat.

img_title Bahaya Mengintai Pengguna NFC di Indonesia

“Isu pornografi WhatsApp, pemblokiran Telegram dan juga registrasi SIM Card adalah bukti bahwa isu keamanan siber ini sudah menyentuh langsung individu masyarakat. Tinggal sekarang PR besarnya sejauh dan sedalam apa negara bisa masuk serta mengedukasi masyarakat. Karena tanpa keterlibatan dan kesadaran masyarakat, sulit menciptakan keamanan siber yang kuat dan paripurna,” jelas Chairman lembaga riset keamanan siber Communication and Information System Security Research Center (CISSReC) ini dalam keterangan tertulis, Rabu 27 Desember 2017.

Pada 2018, Pratama menuturkan, akan menjadi tahun yang sangat sibuk. Pilkada 2018 dan menjelang Pemilu 2019 dipastikan membuat situasi tanah air menghangat. Pemerintah bisa mengantisipasi dari awal dengan terus mengedukasi internet aman dan sehat.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Pendekatan hukum pada para pelaku hatespeech memang harus terus dilakukan, namun bila tidak diimbangi dengan edukasi yang gencar akan sangat sulit mewujudkan suasana yang kondusif di media sosial dan internet pada umumnya,” jelas pria asal Cepu, Jawa Tengah ini.

Pratama juga mengingatkan, situasi politik yang hangat bisa saja memantik saling retas antarkubu. Hal semacam ini harus serius dipikirkan oleh pemerintah bagaimana mengurangi resiko semacam ini.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut