Thanos, Hacker China yang Diduga Bobol BIN dan Lembaga Negara

Hacker.
Sumber :
  • Auth0

VIVA – Kebenaran informasi peretasan terhadap Badan Intelijen Negara (BIN) dan 9 kementerian dan lembaga (K/L) di Tanah Air dengan menggunakan private ransomware (perangkat pemeras) bernama Thanos dipandang penting untuk dilakukan pengecekan.

img_title Jangan Percaya Ada yang Ngaku-ngaku Perekrut BUMN atau Tech Titan di LinkedIn

"Bisa saja ini baru klaim sepihak. Oleh karena itu, perlu menunggu buktinya seperti pada kasus e-HAC Kemenkes beberapa waktu lalu," kata Ketua Lembaga Riset Siber Indonesia CISSReC, Pratama Persadha, Minggu, 12 September 2021.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ia mengemukakan hal itu terkait dengan informasi yang menyebutkan bahwa Mustang Panda Group, peretas atau hacker China, melakukan peretasan terhadap sejumlah kementerian/lembaga dengan menggunakan private ransomware bernama Thanos.

img_title China Mulai Berani Lawan Ducati, Siapkan Superbike untuk Balapan

Kalau mereka sudah share bukti peretasannya seperti data dan biasanya upaya perusakan situs web (deface situs web), menurut Pratama, baru bisa menyimpulkan kebenaran terjadi peretasan. Apalagi, kesepuluh kementerian/lembaga mana saja yang diretas masih belum jelas.

Namun, bila ini spionase antarnegara, menurut dosen pascasarjana Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN) ini, memang bukti akan lebih sulit untuk didapatkan karena motifnya bukan ekonomi maupun popularitas.

img_title China Pangkas Insentif Mobil Listrik

Dikatakan pula bahwa hal ini tetap bagus sebagai trigger (pemicu) semua kementerian/lembaga pemerintah di Indonesia untuk mulai mengecek sistem informasi dan jaringannya.

"Lakukan security assessment di sistemnya masing-masing. Perkuat pertahanannya, upgrade sumber daya manusianya, dan buat tata kelola pengamanan siber yang baik di institusinya masing-masing," kata pria asal Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah ini.

Pada pertengahan 2020, kata Pratama, juga terjadi isu serupa di lingkungan Kemenlu dan beberapa BUMN. Saat itu ada warning dari Australia bahwa email salah satu diplomat Indonesia mengirimkan malware aria body ke email salah satu pejabat di Australia Barat.

Menurut dia, email dari diplomat Indonesia sudah berhasil diambil alih oleh hacker, yang diperkirakan kelompok Naikon dari China. Namun, hal ini juga belum diketahui persis hanya email saja atau sampai perangkat yang diretas.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Masalahnya, banyak malware yang dibuat dengan tujuan menyamai kemampuan malware pegasus yang bisa melakukan take over smartphone," katanya.

Pratama memandang perlu melakukan deep vulnerability assessment atau kerentanan terhadap sistem yang mereka miliki, serta melakukan penetration test (tes penetrasi) secara berkala untuk mengecek kerentanan sistem informasi dan jaringan.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut