Berbagi Data Pribadi di Internet Ancam Pernikahan

Anak jadi korban perceraian orangtua.
Sumber :
  • U-Report

VIVA.co.id – Berdasarkan studinya, Kaspersky Lab menemukan fakta bahwa karir dan pernikahan berisiko hancur karena dilatarbelakangi berbagi data melalui internet. Studi tersebut ditemukan Kaspersky, hasil kerjasama dengan B2B International.

Dari studi tersebut, Kaspersky melihat masih banyak orang yang sembarangan berbagi informasi pribadi di internet di situasi berisiko. Ditemukan, 28 persen responden berbagi data pribadi tanpa sengaja dan 16 persen responden sukarela mengungkapkan rahasia tentang diri mereka, meskipun kenyataannya itu akan membahayakan pekerjaan atau bahkan hubungan mereka.

"Banyak konsumen yang masih belum memahami betul, antara menyadari risiko atau berhati-hati, menyangkut aktivitas online. Dengan begitu banyaknya perangkat serta saluran online di ujung jari maka tidak pernah mudah untuk mengirim pesan yang tidak terenkripsi atau tanpa sengaja berbagi informasi dengan orang yang salah," ujar Principal Security Researcher dari Kaspersky Lab, David Emm.

Melalui keterangan tertulisnya, Rabu, 20 April 2016, survei kolaborasi ini menggunakan lebih dari 12 ribu data di seluruh dunia. Kenyataannya, kalau rata-rata dari mereka rela mengambil risiko untuk berbagi data pribadi melalui saluran komunikasi online, dalam lingkungan online yang berbahaya.

Data pribadi yang dimaksud, yakni berupa foto diri (45 persen), rincian kontak (42 persen), foto orang lain (32 persen), data pribadi yang sensitif (30 persen), dan data yang berhubungan dengan pekerjaan (20 persen) secara online.

Lebih lanjut, dan mungkin bahkan berpotensi lebih serius, satu dari enam responden berbagi rahasia tentang diri mereka (16 persen), sedangkan 9 persen mengkomunikasikan informasi pribadi tentang orang lain dan 8 persen berbagi rincian keuangan yang sensitif.

Sepertiga responden merasa khawatir bahwa hal tersebut bisa merusak hubungan mereka atau mempermalukan atau menyinggung perasaan seseorang dan satu dari enam responden (15 persen) takut bahwa hal tersebut bisa membahayakan karir mereka.

Perihal kekhawatiran ini juga, diakui oleh para responden. Sekitar 28 persen mengaku bahwa mereka secara sengaja berbagi data rahasia dan satu dari 10 responden mengalami kerugian sebagai akibat dari tindakan tersebut. Dari mereka yang mengalami kerugian, konsekuensi yang mereka terima termasuk kehilangan teman (20 persen), di-bully (17 persen), menderita kerugian keuangan (15 persen), diputuskan atau diceraikan oleh pasangan (13 persen) dan dipecat dari pekerjaan mereka (13 persen).

Anak Indonesia Bosan Main Game Online Saat Virus Corona Melanda

Namun, 13 persen responden masih belum mengambil tindakan pencegahan apapun untuk menjaga informasi serta aktivitas online mereka tetap aman, dan hanya empat dari 10 responden yang menjaga interaksi dengan keluarga dekat dan teman-teman terpisah dari kegiatan lainnya (43 persen) atau memeriksa semua pesan dan posting sebelum membagikannya (39 persen).

Seperempat responden mencoba untuk menghindari mengirimkan atau berbagi informasi ketika mereka minum-minuman beralkohol, dan 29 persen responden yang merasa bersalah memilih untuk melakukan langkah-langkah yang bisa dikatakan tidak efektif yaitu dengan terburu-buru menghapus history internet mereka setelah berbagi sesuatu.

Waspada Layanan Kirim Barang Palsu Selama Wabah Corona

"Jika Anda tidak paham betul mengenai dunia maya atau cyber savvy, dan jika Anda juga tidak memiliki perlindungan keamanan dan privasi yang tepat, maka Anda kemungkinan bisa mendapatkan kerugian berupa hancurnya persahabatan dan bahkan karir. Setelah segala sesuatu dipublikasikan secara online maka hal tersebut akan berada di sana selamanya. Jadi jika Anda masih merasa ragu, akan lebih baik jika menyimpannya untuk diri sendiri saja," tutur Emm.

Spyware Pegasus, perangkat lunak atau software milik NSO Group asal Israel.

Kamu Jadi Korban Serangan Pegasus, Lakukan Cara Ini dan Jangan Panik

Kepala Tim Riset dan Analisis Global Kaspersky, Costin Raiu, menyebut Pegasus, Chrysaor, Phantom, dan lainnya sebagai "perangkat lunak pengawasan hukum".

img_title
VIVA.co.id
7 Februari 2022