idEA Tak Bisa Campuri 'Rumah Tangga' E-Commerce, Apa Sebabnya?

Ilustrasi keranjang belanja di e-commerce.
Sumber :
  • acf.ua

VIVA – Asosiasi E-Commerce Indonesia atau idEA mengaku tidak bisa melakukan pengawasan khusus terhadap e-commerce terkait flash sale. Alasannya, karena hal itu bukan kewenangan idEA untuk ikut campur 'rumah tangga' perusahaan.

img_title Menteri Maman: Implementasi Diskon 50 Persen Biaya E-Commerce Bagi UMK Tunggu Jadwal Integrasi

"Kalau flash sale kan sudah kayak campur tangan ke dalam dapur masing-masing. Jadi kita enggak masuk sampai sana," kata Ketua idEA, Ignatius Untung, di Jakarta, Kamis, 6 September 2018.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurutnya selama anggota idEA tidak melakukan aktivitas yang menyalahi hukum, maka organisasinya tidak bisa menghapus dari keanggotaan. idEA juga tidak punya otoritas untuk melarang para pelaku e-commerce saat akan melakukan sesuatu.

img_title Ekspansi ke Thailand, AHA Commerce Bawa Model Pengelolaan E-Commerce RI ke Pasar Asia Tenggara

Akan tetapi, lanjut Ignatius, yang bisa dilakukan idEA jika melihat suatu aktivitas yang merusak adalah sosialisasi dan mengajak untuk menggantinya. Namun, jika masih ada yang tidak mau maka Ignatius berucap akan mengajak pemain lainnya sehingga aktivitas yang tadinya menjadi tren sudah tidak laku lagi.

"Jadi mereka yang enggak mau bertahan cari cara baru yang lebih menarik," tuturnya. Aktivitas flash sale yang dilakukan di hampir semua e-commerce saat ini dinilai Ignatius masih sehat. Namun demikian, ia mengaku perlu diatur pada beberapa aspek.

img_title Penerapan Pajak E-Commerce Berpeluang Kembali Ditunda, Purbaya Ungkap Alasannya

Salah satunya mengenai flash sale dilakukan untuk mengurangi isi gudang milik perusahaan. Namun jika yang mendapatkan promo bukanlah barang yang memenuhi gudang itu yang perlu dikaji.

"Barang baru launching kan enggak mungkin memenuhi gudang disubsidi untuk menarik trafik itu yang perlu dikaji," jelas Ignatius. Ia juga mengingatkan bahwa belanja online bukan hanya soal harga murah.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ia juga berpesan agar para pelaku e-commerce bisa meningkatkan layanan bukan harga yang murah dan orang orang-orang masih ingin kembali belanja di sana.

Menurutnya banyak orang yang sebenarnya juga membeli barang bukan karena murah, seperti yang terjadi pada pembeli ponsel, di mana mereka punya kepercayaan tersendiri terhadap merek atau brand tertentu.

Ilustrasi startup.

Regulator hingga Investor Didorong Sinergis Benahi Tata Kelola Ekosistem Startup Nasional

Regulator dan investor dinilai perlu melakukan langkah verifikasi nyata terhadap perbaikan tata kelola di ekosistem startup, dan bukan cuma janji penyelesaian audit.

img_title
VIVA.co.id
10 September 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut