Order Fiktif Rugikan Konsumen dan Driver, Grab Kerahkan AI dan ML
- Instagram/@grabid
VIVA – Penyedia ojek online, baik Grab maupun Gojek, mendapat pertentangan dari para mantan driver mereka yang terkena suspend karena melakukan aksi ilegal, yakni order fiktif. Para driver mengaku mendapatkan perlakukan tidak adil dari perusahaan pengembang aplikasi ojek online tersebut.
Namun usut punya usut, maraknya order fiktif ternyata merugikan lebih banyak pihak dan menguntungkan sebagian kecil driver. Order fiktif maupun penggunaan 'tuyul' atau fake GPS terbukti telah merugikan para pelanggan karena harus menunggu lebih lama. Selama ini Grab telah membuat aplikasi pelacak lokasi driver yang cukup akurat. Namun karena GPS palsu, posisi driver terdeteksi menjadi lebih jauh dari yang tertera di GPS.Â
Di sisi driver lain yang tidak menggunakan fake GPS, yang jujur bekerja keras tanpa kecurangan, mereka kerap merugi karena order yang seharusnya mereka dapatkan beralih secara paksa ke driver lain yang curang.
![]()
Dikatakan Head of Public Affairs Grab Indonesia, Tri Sukma Anreianno, aksi-aksi unjuk rasa yang terjadi belakangan dilakukan oleh sebagian kecil mantan mitra pengemudi yang menuntut pembukaan akun mereka yang terkena suspend. Mereka tidak mewakili keseluruh komunitas mitra pengemudi Grab.
"Dibalik demo sebagian kecil mantan driver itu, puluhan ribu mitra aktif Grab tetap bekerja secara normal. Kami telah membuat teknologi untuk mengeliminasi kecurangan oleh driver. Karena ruang gerak untuk melakukan kecurangan di platform Grab semakin sulit, beberapa dari mereka melakukan aksi unjuk rasa untuk menuntut pembukaan akun mereka, sebagai langkah terakhir," ujar Tri Sukma, kepada Viva.co.id, Rabu, 7 November 2018.
Oleh karena itu penyedia transportasi online berupaya semaksimal mungkin untuk menghalau kecurangan yang dilakukan para drivernya. Kabarnya Gojek juga telah mengembangkan beberapa fitur dan teknologi baru untuk menjadi solusi mengatasi kecurangan ini. Sayangnya, pihak Gojek belum mau terbuka untuk mengkonfirmasi kabar tersebut. Pertanyaan yang dikirimkan Viva kepada Gojek belum mendapat respons balik sampai saat ini. Sebaliknya, Grab memberikan penjelasan panjang lebar mengenai teknologi tersebut.
![]()
Dijelaskan Tri Sukma, upaya mengeliminasi kecurangan terhadap sistem Grab dilakukan dengan melibatkan teknologi Machine Learning (ML) dan Artificial Intelligence (AI) untuk mendeteksi order fiktif. Ketika order fiktif terdeteksi, akun tersebut serta merta akan terblokir. Program ini diberi nama Grab Lawan Opik! dan diterapkan di seluruh wilayah operasi Grab di Indonesia sejak awal 2018 lalu untuk menangkap sindikat dan mitra pengemudi yang mencoba memainkan sistem ini.