Platform Ini Bekerja seperti Media Sosial, Ajari soal Kripto dan Saham
- Freepik
VIVA – Aplikasi investasi sosial, Cuanz, baru-baru ini merilis Stock-peek, yaitu fitur yang memudahkan penggunanya melihat rekomendasi saham dari para mentor.
Diklaim sebagai yang pertama di Indonesia, fitur Stock-peek menggunakan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk menampilkan sejumlah kode stok yang sedang hangat didiskusikan selama 14 hari terakhir di dalam setiap grup komunitas.
"Setelah mendengarkan umpan balik dari para pengguna dan menganalisa jenis konten populer di platform Cuanz, kami menyimpulkan banyak pengguna dan investor ritel yang lebih suka mengikuti stockpick atau daftar pantauan saham dari mentor favorit mereka," kata Pendiri dan COO Cuanz, Marcella Einsteins, dalam konferensi pers virtual, Rabu, 9 Maret 2022.
Pengguna sekarang dapat dengan mudah mengkompilasikan kode stok yang sedang populer dari berbagai komunitas di dalam aplikasi Cuanz untuk mengambil keputusan investasi.
Stock-peek secara otomatis memfilter topik saham dan investasi tertentu yang sedang dibahas oleh para mentor atau pun influencer, memungkinkan pengguna dapat melihat portfolio dan mengikuti pilihan investasi dengan mudah.
Dengan konsep platform informasi investasi yang beroperasi layaknya media sosial (seperti public.com di Amerika Serikat/AS), Cuanz yang didirikan sejak pertengahan 2021 telah mendapatkan sambutan baik dari para investor lokal.
Aplikasi ini berhasil mencatatkan ribuan pengguna aktif harian (daily active users) secara organik, hanya dalam beberapa bulan beroperasi.
Tidak hanya Stock-peek, platform ini juga sedang mengembangkan fitur-fitur baru untuk mempermudah pengguna Cuanz memahami tentang saham dan kripto.
"Ke depannya, tidak hanya mentor dan influencer yang bisa membagikan daftar pantauan saham dan kripto mereka, tapi semua pengguna Cuanz juga bisa," tutur Marcella.
Sebagai informasi, investor ritel di Indonesia pada 2021 naik 76 persen dibanding sebelumnya dari 3,79 juta menjadi 6,64 juta. Kenaikan tersebut, menurut Bursa Efek Indonesia (BEI), tidak bisa dipisahkan dari pengaruh influencer media sosial.