Tiga Pemicu Banjir Sulawesi Selatan

Banjir bandang akibat debit air sungai meluap di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, pada Selasa siang, 22 Januari 2019.
Banjir bandang akibat debit air sungai meluap di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, pada Selasa siang, 22 Januari 2019.
Sumber :
  • VIVA/Yasir

VIVA – Banjir bandang melanda 53 kecamatan di Sulawesi Selatan. Bencana tersebut mengakibatkan ribuan warga mengungsi dan delapan korban meninggal dunia per data Rabu 23 Januari 2019.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika mengungkapkan ada tiga faktor meteorologis yang saling berhubungan dan memicu banjir parah tersebut. BMKG menyebutkan tiga faktor ini mengamplifikasi dan menimbulkan dahsyatnya banjir di Sulawesi Selatan. 

Kepala Sub bidang Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara, Siswanto menuturkan, setidaknya ada tiga keadaan atmosfer yang secara umum dapat mewujudkan aktivitas pembentukan awan yang sangat kuat di wilayah bagian tengah Indonesia itu.

Ketiga hal yang dimaksud yaitu menguatnya aliran monsun dan daerah pertemuan angin antar benua atau intertropical convergence zone (ITCZ) di atas laut Jawa, pertumbuhan bibit siklon 
95P di perairan utara Australia dan gelombang atmosfer Osilasi Madden Julian (MJO).

Untuk diketahui monsun merupakan iklim yang ditandai oleh pergantian arah angin dan musim hujan atau kemarau selang lebih kurang enam bulan, mengikuti posisi matahari pada Juni dan Desember, terdapat di daerah tropis dan subtropis yang diapit oleh benua dan samudera.

Aliran monsun dan  ITCZ

Indeks monsun menunjukkan penguatan angin monsun Asia dan melemahnya angin 
monsun Australia di atas wilayah Indonesia.