Wawancara dengan Bos Mozilla Mitchell Baker
- VIVAnews/Tri Saputro
Karena kami lembaga non-profit, dan kami adalah proyek open source, kami selalu saling berbagi mengenai hasil kerja kami, kami selalu menganggap bahwa Firefox adalah produk milik publik, sebagai bagian dari infrastruktur internet publik.
Mitchell Baker awalnya adalah karyawan Netscape, menjabat sebagai Associate General Counsel for Netscape Communications Corporation. Ia termasuk orang pertama yang terlibat dalam proyek Mozilla, sebuah proyek Netscape untuk membuka kode program browser Netscape Communicator 4.0 untuk di-open source-kan. Dialah yang merumuskan lisensi open source Mozilla Public License.
Ia menjabat sebagai Chief Lizard Wrangler (General Manager) pada Proyek Mozilla sejak 1999. Namun pada 2001 AOL mengakuisisi Netscape dan AOL memecatnya. Namun ia tetap meneruskan Proyek Mozilla sebagai seorang sukarelawan. Pada 2003, ia mendirikan dan menjadi President Mozilla Foundation, sebuah organisasi non-profit yang didedikasikan untuk keterbukaan dan inovasi Internet.
Sebagai tokoh yang selalu mengkampanyekan keterbukaan internet, dan bertanggung jawab memotivasi, mengorganisir karyawan maupun para sukarelawan yang mengembangkan Firefox sebagai proyek open source, ia terpilih sebagai salah satu tokoh Top 100 Scientists and Thinkers versi majalah TIME. Belum lama ini, itu juga menyabet penghargaan Growth, Innovation & Leadership (GIL) Award 2010, dari Frost & Sullivan.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Anda terlibat dalam Mozilla sejak awal. Apakah Anda merasa perkembangan Mozilla sudah di jalur yang benar?
Sudah pasti. Saya bisa bilang bahwa pertama kali semua orang bilang bahwa Mozilla adalah proyek yang mustahil, tapi ternyata kami menang. Dan itu yang membawa kami menjadi seperti sekarang ini.
Bila Anda ingat sebelum adanya Firefox, hanya ada satu browser yang sangat memprihatinkan (Internet Explorer-red), browser yang sangat-sangat berbahaya dan memprihatinkan. Dengan 99 persen pangsa pasar, mereka tak melakukan pengembangan, stagnan.Â
Saat itu semua merasa bahwa itu tak akan bisa dirubah. Karena Microsoft memiliki kontrol yang sangat penuh, dengan distribusinya melalui Windows. Tapi kami bisa merubahnya! Sekarang semua tahu bahwa browser adalah alat yang menentukan.
400 juta orang (pengguna Firefox) memilih browser yang berbeda, khususnya di Indonesia. Indonesia jauh berada di atas semua negara manapun di dunia yang mengakui dan memilih browser yang baik untuk mereka.