5 Perang Terbesar di Indonesia, Nomor 1 Paling Ngeri
- Facts of Indonesia
3. Puputan Margarana
Jero Mangku Margarana
- Balebengong.net
Perang Puputan Margarana pernah terjadi di Bali pada 20 November 1946. Lagi-lagi perang itu terjadi setelah satu tahun dinyatakan kemerdekaan Indonesia, meskipun Indonesia sudah dinyatakan merdeka, namun nyatanya masih ada beberapa tempat yang masih ada peperangan. Pada pertempuran itu dipimpin langsung oleh I Gusti Ngurah Rai untuk tetap mempertahankan Desa Margarana dari serangkai serangan NICA.
Masyarakat Bali masih tetap mempertahankan dan terus melawan meskipun harus mati, masyarakat bali tidak akan pernah menyerah. Dalam pertempuran ini tercatat sebanyak 96 orang meninggal salah satunya pemimpin pertempuran yaitu I Gusti Ngurah Rai. Sementara di pihak musuh yaitu Belanda kehilangan 400 pasukannya akibat pertempuran itu.
4. Perang Diponegoro
Lukisan Raden Saleh saat penangkapan Pangeran Diponegoro. (Wikipedia)
- Wikipedia
Perang Diponegoro yang berlangsung sangat panjang yaitu pada tahun 1825-1830. Pada perang ini pun langsung dipimpin oleh Pangeran Diponegoro dan akan menghadapi penjajah Belanda yang dipimpin oleh Jenderal Hendrik Merkus de Kock.
Pada perang itu pasukan Pangeran Diponegoro berjuang sampai titik darah penghabisan untuk mempertahankan daerahnya dari invasi Belanda, akibatnya pasukan dari Pangeran Diponegoro harus dihilangkan kurang lebihnya 200.000 orang tewas. Sementara dari pihak Belanda setidaknya 8.000 tentara yang tewas.
Hingga pada akhirnya pasukan Pangeran Diponegoro harus menerima kekalahan dari Belanda, Meskipun dimenangkan oleh Belanda, akan tetapi pihak Belanda mengalami kerugian yang sangat besar atas perang itu, dan mencoba mencari akal untuk menutupi segala kekurangannya.
Penjajah Indonesia
- U-Report
Bandung Lautan APi merupakan peristiwa paling bersejarah di Indonesia, kejadian ini pada tahun 24 Maret 1946. Sekitar 200 ribu penduduk Bandung membakar rumah masing-masing dan kemudian pergi ke pegunungan sekitaran Selatan Bandung. Bukan tanpa sebab, hal itu bertujuan supaya Bandung tidak ditempati oleh pasukan sekutu dan NICA sebagai salah satu strategi militer.
Atas kejadian itu hampir langsing di seluruh Bandung diliputi oleh kabut asap hitam. Pasalnya Tentara Rakyat Indonesia (TRI) tidak memiliki kemampuan yang sebanding dengan pasukan Belanda dan NICA hingga akhirnya, para Tentara Rakyat Indonesia memiliki strategi dengan membakar rumah.
Pasukan Inggris dan NICA tidak tinggal diam dan mencoba menyerang sampai ke perbatasan Desa Dayeuhkolot Bandung. Pasalnya di desa tersebut ada gudang senjata milik para sekutu dan NICA, hingga akhirnya dua anggota dari Tentara Rakyat Indonesia ditugaskan untuk menghancurkan gudang tersebut, namun dua anggota yang ditugas itu harus gugur dalam pertempuran itu.