Kenali Hak dan Tanggung Jawab di Ruang Digital

Ilustrasi digital.
Ilustrasi digital.
Sumber :
  • Freepik

VIVA Edukasi – Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) RI bersama Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi menggelar program literasi digital nasional sektor pendidikan wilayah Sumatera bagi para guru dan siswa di Kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan.

Kegiatan yang dilaksanakan secara webinar ini berlangsung Kamis 11 Agustus 2022 yang dimulai pukul 09.00 – 11.00 WIB dengan peserta sebanyak 22.476 orang. Adapun program literasi digital #Makin Cakap Digital ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat Indonesia dalam memanfaatkan teknologi digital secara positif, produktif, dan aman.

Webinar Hak dan Tanggung Jawab di Ruang Digital

Webinar Hak dan Tanggung Jawab di Ruang Digital

Photo :
  • Siberkreasi

Ini lantaran menurut Survei Literasi Digital di Indonesia pada tahun 2021, Indeks atau skor Literasi Digital di Indonesia berada pada angka 3,49 dari skala 1-5. Skor tersebut menunjukkan bahwa tingkat literasi digital di Indonesia masih berada dalam kategori Sedang.

Selain itu berdasar laporan HootSuite dan We Are Social, pengguna internet di Indonesia mencapai 202,6 juta jiwa pada awal tahun 2021, atau meningkat 15,5% dibandingkan awal tahun sebelumnya. Itu merupakan 73,7% dari total populasi Indonesia.

Dan pandemi yang melanda Indonesia sejak awal tahun 2020 telah meningkatkan penggunaan internet dan mempercepat adopsi digital pada kegiatan sehari-hari. Kegiatan seperti belajar mengajar di rumah, bekerja dari rumah, berbelanja hingga pemeriksaan kesehatan dilakukan menggunakan aplikasi digital.

Kemenkominfo bersama Siberkreasi pun merespons itu dengan program literasi digital nasional yang mengusung tema “Belajar Hak dan Tanggung Jawab di Ruang Digital.”

Dalam webinar itu menyuguhkan materi yang didasarkan pada 4 pilar utama Literasi Digital, yaitu kecakapan digital, etika digital, budaya digital, dan keamanan digital. Webinar ini diawali dengan sambutan dari Dirjen Aptika Kominfo, Semuel Abrijani Pengerapan, yang memaparkan masifnya penggunaan internet di Indonesia yang membawa serta resiko seperti penipuan online, hoax, cyber bullying, dan kontenkonten negatif lainnya, sehingga peningkatan penggunaan teknologi ini perlu diimbangi dengan kapasitas literasi digital yang mumpuni.

“Saat ini indeks literasi digital masyarakat Indonesia masih berada pada angka 3,49 dari skala 5. Yang artinya masih di kategori sedang, belum mencapai kategori baik. Angka ini perlu terus kita tingkatkan dan menjadi tugas kita bersama untuk membekali masyarakat kita dengan kemampuan literasi digital agar selalu siap mengawal percepatan transformasi digital nasional,” ujar Semuel Abrijani Pengerapan dalam keterangannya yang diterima VIVA, Jumat (12/8).

Sedangkan Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia, Jhonny G. Plate dalam kesempatan itu menjelaskan jika Kementrian yang dipimpinnya juga fokus memberikan literasi digital kepada kelompok pendidikan.

“Sejak dilaksanakan pada tahun 2017, program literasi digital telah menjangkau lebih dari 12,6 juta masyarakat, setidaknya di tahun 2022 ini akan diberikan pelatihan literasi digital kepada 5,5 juta masyarakat. Kementrian Kominfo juga akan berfokus memberikan literasi digital kepada kelompok pendidikan. Para peserta akan diberikan pelatihan literasi berdasarkan pada empat pilar,” jelas Menkominfo.

Untuk webinar Sektor Pendidikan Wilayah Sumatera di Kota Palembang Provinsi Sumatera Selatan ini, tampil sebagai narasumber pertama Kepala Kantor Kemenag Sumatera Selatan, DR Syafitri Irwan yang membawakan materi Budaya Digital. Ia menjelaskan jika bermedia sosial harus juga beretika, memiliki tata krama dan berakhlak, karena dalam dunia digital terhubung dan terkoneksi dengan seluruh dunia yang tidak terbatasi oleh wilayah.

“Nilai-nilai yang harus kita tampilkan adalah etika yang baik yang harus kita jaga dan kita perhatikan. Cerminkanlah bahwa masyarakat indonesia adalah netizen yang berkomentar baik. Segala aktivitas digital pastinya menggunakan etika dalam bermedia digital, maka dari itu berhati-hatilah dalam mengirim pesan dan bertutur sopan di dalam media sosial,” ujar DR Syafitri Irwan.

Untuk narasumber kedua yakni DR Muhammad Ali, yang merupakan Kabid Pendidikan Madrasah Kemenag Sumatera Selatan, yang membawakan materi Etika Digital. Di mana ia memaparkan jika saat ini diperlukan metode pembelajaran yang disesuaikan dengan zaman dari para siswa yang merupakan generasi Z sehingga para pengajar tidak dianggap sebagai barang antik.

“Madrasah Insyaallah akan saya bangun ruang, di mana ruang itu akan saya manfaatkan sebagai ruang pembelajaran yang efektif, contoh jika seorang siswa yang tidak dapat ke sekolah dengan alasan sakit maka mereka akan bisa tetap hadir walaupun menggunakan jaringan sehingga absensi mereka tetap aman dan materi yang mereka dapatkan tidak akan pernah terputus,” jelasnya.

Sedangkan pemateri terakhir yakni Anang Dwi Santoso yang merupakan seorang dosen di Universitas Sriwijaya. Ia tampil membawakan materi Keamanan Digital. Ia mengungkapkan jika keamanan digital merupakan proses untuk memastikan penggunaan layanan digital dapat dilakukan secara aman dan terlindungi.

Anang pun menyampaikan tips untuk aman bermedia digital, di antaranya dengan tidak merespons telepon atau pesan yang meminta data pribadi atau password/pin, instal aplikasi yang resmi yang terdapat di play store serta aktifkan fitur 2FA sebagai fitur keamanan tambahan.

Di akhir sesi, para peserta diberikan kesempatan untuk mengajukan pertanyaan dan dijawab langsung oleh narasumber. Seluruh rangkaian webinar ini dipandu oleh moderator Aida Gunawan.