Pesan Mantan Menristek untuk Generasi Muda

Bambang Brojonegoro dan Siswono Yudo Husodo saat wisuda
Sumber :
  • VIVA.co.id/Rinna Purnama (Depok)

VIVA – Mantan Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional, Bambang Brodjonegoro mengatakan, bonus demografi yang akan dimiliki Indonesia harus dimaksimalkan untuk kemajuan bangsa. Peluang tersebut harus bisa dikelola dengan baik sehingga dapat membawa kesejahteraan.

img_title Prabowo Optimistis Efek Ekonomi Kopdes Merah Putih Mulai Terasa di 2027, Potong Alur Distribusi

“Intinya mereka (generasi muda) ini adalah bagian dari yang namanya bonus demografi atau demografi dividen yang Indonesia sedang alami dan menikmati dari tahun 2015 sampai 2040 nanti,” katanya usai acara wisuda Universitas Pancasila (UP), Rabu 22 Mei 2024.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurutnya, Indonesia bisa belajar dari negara lain seperti Korea, Jepang dan China. Negara tersebut menjadi negara maju karena pengelolaan bonus demografi yang baik.

img_title Purbaya Tak Minat jadi Pejabat Negara Lagi: Kalau Sudah Pensiun, Ya Sudah

“Kalau suatu negara berhasil mengelola bonus demografinya. Artinya, bisa mentransformasi perekonomiannya jadi lebih produktif, lebih berdaya saing dengan basis pada sektor yang sifatnya pengolahan, atau penciptaan nilai tambah, maka mereka punya peluang besar menjadi negara maju,” ujarnya.

Anggota Yayasan UP itu menambahkan, kegagalan beberapa negara dalam mengelola bonus demografi akan membuat negara terjebak sebagai negara berpendapatan kelas menengah. Dia pun menekankan pentingnya para lulusan agar lebih adaptif terhadap apa yang terjadi pada hari ini.

img_title Ada Malaysia, Australia hingga Singapura, 10 Negara Kumpul Bahas Perbatasan Indonesia

“Mungkin nasihat orang tua tetap penting, tapi yang lebih penting adalah kemampuan mereka beradaptasi dengan kondisi saat ini,” ungkapnya.

Ilustrasi mahasiswa demo BBM

Photo :
  • VIVA/Fajar Sodiq

Menurutnya, generasi saat ini memiliki tiga tantangan besar. Pertama, mereka ada adalah generasi yang pernah mengalami beratnya ekonomi akibat COVID-19. Kedua, mereka harus selalu berhadapan dengan potensi bencana alam yang muncul sebagai akibat perubahan iklim.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Terlebih, Indonesia yang intensitas bencana berbasis air itu tingkatannya makin tinggi, makin sering terjadi. Ketiga, mereka menjadi generasi yang harus berhadapan dengan revolusi industri dengan tingkat perubahan begitu cepat dibanding revolusi- revolusi industri sebelumnya.

“Misal, ketika baru belajar komputer, tahu-tahu mereka harus adaptif terhadap dunia digital. Ketika menguasai digital tahu-tahu harus mempersiapkan menghadapi kecerdasan AI yang mungkin akan mendominasi dunia beberapa tahun ke depan. Nah, berhadapan dengan tantangan ini mau tidak mau generasi saat ini harus lebih tahan banting, tapi sekaligus juga harus cepat beradaptasi,” katanya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut