Belajar dari Pengalaman NU dan Muhammadiyah

Prof Dr Abdul Mu'ti, Prof Dr M Quraish Shihab, MA, dan H Ulil Abshar Abdalla.
Sumber :
  • Istimewa

"Jika ormas Islam tidak terlibat dalam proses ini, saya kira Indonesia tidak akan bisa menjadi negara yang aman dan damai, dan bahkan masyarakatnya bahagia walaupun secara ekonomi sebagian dari mereka tidak beruntung," tegasnya.

img_title Prabowo Terima Langsung Kartu Anggota NU, Berlaku Seumur Hidup

"Ini bisa tercipta karena ada peran ormas sosial keagamaan yang secara sukarela ikut bertanggung jawab dalam membangun kesejahteraan masyarakat dan membentuk masyarakat yang rukun," sambungnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ketua PBNU KH Ulil Abshar Abdalla dalam paparannya menekankan bahwa salah satu isu tentang perdamaian yang paling urgent adalah perdamaian dalam negeri. Menurutnya, selalu menjaga perdamaian di Indonesia dan perdamaian dalam tubuh umat Islam adalah tantangan terbesar yang harus dijawab dengan baik.

img_title Gus Ipul: Pertama Kali Presiden Buka dan Tutup Muktamar NU, Sejarah Baru!

Menurut KH Ulil, salah satu kunci sukses transisi politik di Indonesia, dari era otoriter menuju era terbuka dan demokratis, salah satunya karena sumbangan kelompok Islam, baik NU, Muhammadiyah, Persis, Jamiatul Khair, Nahdlatul Wathan, Mathlalul Anwar, Al-Wasliyah, dan lainnya. Kesuksesan dan kestabilan negara ini terjadi karena peran umat Islam di Indonesia.

img_title Presiden Prabowo Bertolak ke Jombang, Bakal Hadiri Penutupan Muktamar ke-35 NU

Kyai Ulil lalu berbagi pengalaman kunjungannya ke Pakistan. Menurutnya, kondisi politik di negara muslim di kawasan anak benua India, baik Pakistan maupun Bangladesh, kurang menggembirakan, antara lain karena terjadinya ketidakstabilan politik dan kehidupan sosial.

"Kita bersyukur, Indonesia sekarang menikmati kestabilan, hubungan sosial yang cukup damai. Ini semua dalam pandangan NU, jelas ada kaitan dan kontribusi umat Islam," paparnya.

Lantas, dari mana kontribisi umat Islam dalam membangun kedamaian dan kestabilan sosial? Pertama, terkait model pemahaman keagamaan yang dikembangkan ormas Islam di Indonesia. Menurutnya. pemahaman keagamaan yang dikembangkan umat Islam di Indonesia itu mendukung perdamaian, bukan pemahaman keagamaan yang memicu konflik, atau pertengkaran dalam tubuh umat Islam sendiri ataupun antara umat Islam dan umat lain.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"NU misalnya, mengembangkan tiga model ukhuwwah yang dicetuskan KH Achmad Siddiq, yaitu: Ukhuwwah Islamiyah, Ukhuwwah Wathaniyah, dan Ukhuwwah Basyariyah," ucapnya.

"Gagasan seperti ini jelas diperlukan untuk membangun sikap dalam warga NU dan Muslim pada umumnya, untuk mempunyai sikap yang bisa membangun persaudaraan pada semua level, keagamaan, kebangsaan, dan kemanusiaan," sambungnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut