Belajar dari Pengalaman NU dan Muhammadiyah

Prof Dr Abdul Mu'ti, Prof Dr M Quraish Shihab, MA, dan H Ulil Abshar Abdalla.
Sumber :
  • Istimewa

Kedua, hampir semua kelompok Islam di Indonesia, menerima keberadaan bentuk negara nasional. Dalam keyakinan umat Islam di Indonesia, tidak ada kontradiksi antara keislaman dan kebangsaan, antara menjadi muslim dan menjadi Warga Negara Indonesia, antara mengikuti ajaran Islam dengan hidup di pemerintahan nasional yang bukan negara agama.

img_title Muhammadiyah: Karhutla Tidak Boleh Dinormalisasi Sebagai Bencana Tahunan

"Bentuk negara ini diterima umat Islam Indonesia. Ini menciptakan kondisi kondusif bagi perdamaian di Indonesia," sebutnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Bila pemahaman yang berkembang, kontradiksi dengan pemahaman kebangsaan, boleh jadi kita tidak menyaksikan situasi damai ini," tandasnya.

img_title Gus Ipul Dukung KPK Usut Dugaan Suap Muktamar NU, Ancam Seret Pelapor ke Pengadilan Jika Tak Terbukti

Ketiga, ormas keagamaan di Indonesia, termasuk NU dan Muhammadiyah, mampu mengelola konflik. KH Ulil melihat ini sebagai anugerah luar biasa. Dia berpandangan, suksesnya konsolidasi politik yang stabil di Indonesia dengan segala masalahnya, terjadi karena sumbangan umat Islam. Dan unsur terbesar umat Islam di Indonesia adalah NU dan Muhammadiyah.

"Sebagai bangsa, kita patut mengapresiasi NU dan Muhammadiyah karena memgembangkan kemampuan mengelola perbedaan sehingga terbangun situasi damai," tandasnya.

img_title PP Muhammadiyah Instruksikan Jajaran Persyarikatan Ikut Dukung Penanganan Karhutla

Belajar dari Indonesia

Prof Quraish mengamini apa yang dijelaskan oleh Prof Mu'ti tentang Muhammadiyah dan KH Ulil tentang NU. Menurutnya, peran itulah yang sebagian menjadi alasan kenapa NU dan Muhamadiyah mendapat Zayed Award for Humanity pada 4 Februari 2024.

Prof Quraish lalu berbagi pengalaman selama terlibat dalam MHM. Menurutnya, Indonesia menjadi contoh dalam kedamaian. Dalam banyak rapat anggota yang Prof Quraish ikuti, MHM menjadikan Indonesia sebagai bukti tentang perdamaian. 

"Indonesia sering disebut. Tidak jarang mereka berkata mari kita ke Indoensia untuk belajar," paparnya.

"Memang MHM ingin belajar dari Indonesia. Karena itu, sekitar 7 tahun yang lalu, MHM pernah mengadakan seminar tentang bagaimana menciptakan perdamaian di tengah masyarakat Islam, dan pembicaranya dari Indonesia," pesannya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Tujuan dibentuknya MHM, kata Prof Qurash, adalah mengukuhkan kedamaian. Kedamaian dalam pandangan MHM adalah dalam hati. Maka hati harus dibersihkan. Kesalahpahaman yang ada harus disingkirkan. 

"Tujuan dari MHM adalah mengukuhkan perdamaian, bermula dari diri setiap orang, masyarakat, negaranya, baru menyebarluaskan ke seluruh dunia. Karena semua agama mendambakan kedamaian," tandasnya. 

Ilustrasi air bersih.

1 Juta Liter Air Bersih Disalurkan untuk Warga Terdampak Karhutla dan Kekeringan

Sebanyak 1 juta liter air bersih dan bantuan masker disalurkan untuk warga terdampak karhutla dan kekeringan ekstrem di sejumlah wilayah Indonesia yang terdampak karhutla

img_title
VIVA.co.id
22 Oktober 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut