Tarian Duo Madrid yang Rusak Impian Dua Arsitek
- Reuters / Paul Hanna
Ada tiga klub Negeri Matador yang tampil di partai puncak dalam tiga musim terakhir. Mereka adalah Madrid, Atletico, dan Barca.
Ditambah musim ini, Madrid dan Atletico sudah tampil dua kali di tiga final terakhir Liga Champions. Dengan ini pula, dipastikan juara Liga Champions berasal dari Spanyol dalam tiga edisi terakhir.
All Spanish-final musim ini juga menjadi yang ketiga sepanjang sejarah Liga Champions. Musim 1999/2000, Madrid berhadapan dengan Valencia di Stade de France. Kala itu, Madrid keluar sebagai juara karena menang dengan skor 3-0.
"Melawan Atletico selalu spesial. Sebab, mereka adalah tim dari Spanyol pula," ujar bintang Real Madrid, Cristiano Ronaldo seperti dilansir AS.
Hal yang sama juga diungkapkan oleh pelatih Atletico, Diego Simeone. Bisa bertemu dengan Madrid di partai final, disebutnya, menjadi sebuah kebanggaan.
Namun, ada sisi lain yang dilihat Simeone dalam pertemuan 28 Mei 2016 nanti. Atletico bisa membalaskan dendam kepada Madrid atas apa yang mereka lakukan, dua tahun silam.
"Saya berharap takdir berpihak pada kami kali ini. Tapi, saya bangga dengan pencapaian klub ini. Kami sudah menunjukkan bisa mengalahkan tim terbaik dunia dan kami menampilkan apa yang bisa dilakukan untuk sampai ke final," jelas Simeone.
Keinginan Atletico menjuarai Liga Champions untuk kali pertama, dipastikan sulit. Bale menjamin, Madrid akan membuat Atletico kembali menangis.
"Final selalu menghadirkan lawan yang sulit. Atletico tim yang tangguh, tapi kami selalu antusias berhadapan dengan mereka. Kami selalu siap," ujar Bale.
Selanjutnya
Diwarnai Kegagalan Dua Arsitek
Kebahagiaan duo Madrid menembus partai final menyisakan luka bagi dua arsitek, Pep Guardiola serta Manuel Pellegrini. Bagaimana tidak, keduanya bertekad ingin memberikan persembahan terakhir bagi Bayern Munich maupun Manchester City.
Guardiola dipastikan meninggalkan Bayern di akhir musim. Dia akan bergabung ke ManCity musim depan.
Pellegrini pun demikian. Setelah gagal total di Premier League, dia berharap bisa memenangkan Liga Champions musim ini.
Sayang, semua harapan tersebut sirna. Guardiola harus menerima kenyataan, gagal mengantarkan Bayern juara Liga Champions selama tiga musim.