Intermittent Fasting Lagi Tren, Dokter Peringatkan Risiko yang Tak Banyak Disadari
- Times of India
Ia juga menekankan bahwa penurunan berat badan sebenarnya lebih dipengaruhi oleh total kalori yang dikurangi, bukan sekadar mempersempit waktu makan. “Pengurangan kalori itulah yang menyebabkan penurunan berat badan, bukan semata-mata makan dalam waktu yang lebih singkat,” ujarnya.
Penelitian mengenai hubungan puasa dan kanker juga mulai berkembang. Sebuah studi kecil tahun 2025 yang dimuat dalam British Journal of Cancer menunjukkan bahwa pola makan normal selama lima hari dan pembatasan makan selama dua hari mungkin dapat sedikit memperlambat perkembangan kanker payudara metastatik.
Daniel Tamae, profesor kimia yang juga meneliti bidang tersebut, mengatakan ada dasar ilmiah yang cukup kuat untuk menghubungkan puasa dengan pertumbuhan tumor. “Beberapa tumor dipicu oleh metabolisme glukosa. Jadi memang ada alasan ilmiah di balik itu,” jelasnya.
Selain itu, beberapa studi lain pada pasien kanker menemukan bahwa intermittent fasting berpotensi membantu mengurangi beberapa efek samping kemoterapi. Meski begitu, para dokter menegaskan bahwa tidak semua orang aman menjalani metode ini. Penderita diabetes, lansia, atau mereka yang memiliki kondisi kesehatan tertentu disarankan untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter sebelum mencoba intermittent fasting.