Menkes Budi Peringatkan Bahaya Kol Goreng, Singgung Risiko Kanker dan Kolesterol

Kol goreng
Sumber :

Jakarta, VIVA – Kol goreng menjadi salah satu pelengkap favorit saat menyantap ayam atau lele penyet. Rasanya yang gurih dengan tekstur renyah membuat banyak orang merasa kurang lengkap menikmati hidangan tanpa sayuran yang digoreng tersebut. Namun, kebiasaan mengonsumsi kol goreng justru mendapat peringatan dari Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.

img_title Dari Deteksi Dini hingga Pengobatan, Ini Tantangan Layanan Kanker di Kawasan Industri Bekasi

Melalui video yang diunggah di akun Instagram pribadinya, Budi mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati dalam mengonsumsi kol yang digoreng, terutama jika proses pengolahannya menggunakan minyak yang telah dipakai berulang kali.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ia bahkan menyinggung risiko kesehatan yang perlu diwaspadai, mulai dari peningkatan kolesterol hingga potensi bahaya yang berkaitan dengan proses penggorengan menggunakan minyak berkualitas buruk.

img_title Kanker Langka Mengintai 1 dari 5 Pasien, Kenali Jenis-jenisnya

"Makan kol goreng seperti ini setiap hari, gua jamin elo akan bisa kena kanker lebih cepat. Tapi kan makan penyetan enggak pakai kol goreng kurang afdol enggak sih? Pantes aja elo masih muda tapi kolesterol lu udah selangit," tutur Budi, dikutip Senin (19/10/2026).

Menurut Budi, kol sebenarnya merupakan sayuran yang memiliki kandungan gizi baik dengan harga terjangkau. Sayuran ini juga tergolong rendah kalori sehingga dapat menjadi pilihan untuk melengkapi pola makan sehari-hari.

img_title Jika Dikonsumsi Pagi Hari untuk Sarapan, Makanan Ini Ternyata Bisa Bantu Turunkan Kolesterol

Dalam 100 gram kol segar, misalnya, terkandung sekitar 24 kalori. Kandungan tersebut membuat kol dapat dikonsumsi sebagai bagian dari menu sehat, selama diolah dengan cara yang tepat.

“Ini kol 100 gram cuma 24 kalori. Aslinya sayurnya kan kayak gini, udah murah, sehat lagi. Tapi kalau digoreng kayak begini, kol goreng ini digorengnya pakai apa? Pakai minyak jelatah! Minyaknya udah hitam, butek lagi, dipakainya berulang-ulang,” tegas dia.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sorotan Budi terutama tertuju pada penggunaan minyak jelantah atau minyak goreng yang digunakan berulang kali. Pemanasan berkali-kali, terlebih ketika minyak sudah mengalami perubahan warna dan kualitas, dapat memicu pembentukan senyawa hasil degradasi minyak yang berpotensi merugikan kesehatan.

Meski demikian, risiko kesehatan tidak semata-mata ditentukan oleh apakah kol digoreng atau dimakan mentah. Kondisi minyak, suhu, durasi penggorengan, serta pola konsumsi secara keseluruhan turut berperan dalam menentukan dampaknya terhadap tubuh.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut