Kolesterol Tinggi Gak Cuma Menyerang Lansia, Ini yang Perlu Diwaspadai
- Freepik/rawpixel.com
Jakarta, VIVA – Kolesterol tinggi kerap dikaitkan dengan kelompok usia lanjut. Padahal, kondisi ini juga dapat dialami oleh orang berusia produktif, terutama mereka yang memiliki pola makan kurang seimbang, jarang berolahraga, serta menjalani rutinitas sehari-hari dengan tingkat aktivitas fisik yang rendah.
Perubahan gaya hidup masyarakat perkotaan turut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan. Kesibukan bekerja, kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi lemak jenuh, serta kurangnya waktu untuk berolahraga dapat memengaruhi keseimbangan lemak dalam darah.
Masalah kolesterol perlu mendapat perhatian karena sering kali tidak menimbulkan gejala yang mudah dikenali pada tahap awal. Seseorang bisa saja merasa sehat dan tetap menjalankan aktivitas seperti biasa, meskipun kadar lemak darahnya berada di luar rentang yang dianjurkan.
Karena itu, pemeriksaan kesehatan secara berkala menjadi salah satu langkah penting untuk mengetahui kondisi kolesterol sejak dini. Pemeriksaan ini juga membantu seseorang memahami faktor risiko yang perlu dikendalikan sebelum memicu masalah kesehatan lebih lanjut.
Kenali Empat Komponen Profil Lemak Darah
Pemeriksaan kolesterol tidak cukup hanya melihat satu angka. Profil lipid atau profil lemak darah mencakup empat komponen utama yang memberikan gambaran lebih menyeluruh mengenai kondisi lemak dalam tubuh.
Pertama, kolesterol total, yakni jumlah keseluruhan kolesterol dalam darah yang mencakup beberapa jenis kolesterol. Angka ini dapat menjadi gambaran awal, tetapi perlu ditafsirkan bersama komponen profil lipid lainnya.
Kedua, trigliserida, yaitu jenis lemak yang digunakan tubuh sebagai sumber energi. Kadar trigliserida dapat meningkat akibat sejumlah faktor, seperti konsumsi kalori berlebihan, asupan gula yang tinggi, kebiasaan mengonsumsi alkohol, serta kurangnya aktivitas fisik.
Ketiga, low-density lipoprotein (LDL) yang kerap disebut kolesterol jahat. Kadar LDL yang tinggi dapat berkontribusi terhadap penumpukan plak pada dinding pembuluh darah. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke.
Keempat, high-density lipoprotein (HDL) atau kolesterol baik, yang membantu membawa kolesterol dari jaringan tubuh kembali ke hati untuk diproses. Meski demikian, kadar HDL perlu dinilai sebagai bagian dari keseluruhan profil lipid, bukan sebagai satu-satunya penentu kesehatan jantung.