Pernah Operasi Caesar atau Usus Buntu? Waspadai Risiko Perlengketan Usus
- Magnific
Tangerang, VIVA - Operasi di area perut tidak selalu berakhir setelah luka sayatan sembuh. Pada sebagian pasien, proses pemulihan justru dapat meninggalkan jaringan parut di dalam rongga perut yang berpotensi menyebabkan organ-organ saling menempel. Kondisi ini dikenal sebagai perlengketan usus atau adhesi dan bisa menimbulkan gangguan kesehatan, bahkan bertahun-tahun setelah operasi dilakukan.
Perlengketan usus dapat terjadi setelah berbagai prosedur bedah di area perut, termasuk operasi usus buntu, operasi caesar, maupun tindakan bedah lainnya. Kondisi tersebut muncul ketika jaringan parut terbentuk dan menghubungkan permukaan usus dengan jaringan atau organ di sekitarnya.
Meski tidak semua perlengketan menimbulkan masalah, sebagian pasien dapat mengalami keluhan seperti nyeri perut berulang, perut kembung, hingga gangguan pergerakan usus. Dalam kondisi tertentu, perlengketan bahkan dapat menyebabkan sumbatan usus yang membutuhkan penanganan medis segera.
Selain riwayat operasi, peradangan dan infeksi di rongga perut juga dapat memicu terbentuknya jaringan perlengketan. Karena itu, keluhan yang muncul setelah operasi sebelumnya tidak sebaiknya dianggap sebagai bagian biasa dari proses pemulihan.
Dokter Spesialis Bedah Digestif Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Eko Priatno, Sp.B-KBD, menjelaskan bahwa perlengketan merupakan salah satu kondisi yang dapat ditemukan setelah tindakan operasi di area perut. Namun, penanganannya tidak selalu harus melalui prosedur bedah.
"Perlengketan merupakan salah satu kondisi yang dapat ditemukan setelah operasi di area perut. Tidak semua pasien mengalami gangguan, sehingga penanganannya perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing. Pada kasus yang lebih kompleks, kolaborasi antar dokter spesialis menjadi penting untuk memastikan setiap organ yang terlibat mendapatkan penanganan yang tepat," jelas dr. Eko, dalam keterangannya, dikutip Jumat (30/10/2026).
Ketika Perlengketan Usus Melibatkan Saluran Kemih
Penanganan perlengketan usus dapat menjadi lebih rumit apabila jaringan parut berada dekat atau melibatkan organ lain. Salah satunya adalah ureter, yakni saluran yang membawa urine dari ginjal menuju kandung kemih.
Jika saluran tersebut ikut terdampak, dokter tidak hanya perlu menangani gangguan pada usus, tetapi juga memastikan fungsi saluran kemih tetap terjaga. Kondisi seperti ini membutuhkan evaluasi lebih menyeluruh karena tindakan pada satu organ berpotensi berkaitan dengan organ lainnya.
Dokter Spesialis Urologi Konsultan Trauma dan Rekonstruksi Urogenital Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Donny Eka Putra, Sp.U.(K), Subsp. Trauma and Reconstructive Urology, menjelaskan bahwa kasus kompleks membutuhkan keterlibatan beberapa disiplin ilmu kedokteran.
"Pada kasus perlengketan yang kompleks, penanganan tidak cukup hanya berfokus pada satu organ. Kami perlu memahami hubungan antar organ yang terlibat agar tindakan dapat direncanakan secara menyeluruh, termasuk menjaga fungsi saluran kemih dan melakukan rekonstruksi jika diperlukan," ungkap dr. Donny.
Dalam kolaborasi tersebut, dokter bedah digestif menangani gangguan pada usus, termasuk pelepasan jaringan perlengketan apabila memang diperlukan. Sementara dokter urologi rekonstruksi mengevaluasi keterlibatan saluran kemih dan melakukan tindakan perbaikan atau rekonstruksi sesuai indikasi medis.
Tidak Semua Perlengketan Harus Dioperasi
Untuk menentukan penanganan yang tepat, dokter terlebih dahulu mengevaluasi riwayat operasi, melakukan pemeriksaan fisik, serta mempertimbangkan pemeriksaan penunjang seperti CT Scan.
Pemeriksaan tersebut membantu dokter menilai kondisi organ di dalam rongga perut dan kemungkinan komplikasi. Meski demikian, perlengketan tidak selalu dapat terlihat secara langsung melalui pemeriksaan pencitraan.
Keputusan untuk melakukan operasi juga tidak bisa diambil hanya berdasarkan keberadaan jaringan perlengketan. Dokter perlu mempertimbangkan tingkat keparahan gejala, gangguan fungsi organ, potensi komplikasi, serta manfaat dan risiko tindakan bagi pasien.
Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Margareth Aryani Santoso, MARS, mengatakan kolaborasi antarspesialis merupakan bagian dari upaya memberikan pelayanan yang mempertimbangkan kondisi pasien secara menyeluruh.
"Bagi kami, pelayanan kesehatan bukan hanya tentang menangani suatu penyakit, tetapi juga memahami kondisi pasien secara menyeluruh. Melalui kolaborasi dokter dari berbagai spesialisasi dan dukungan fasilitas medis yang terintegrasi, kami ingin memastikan pasien mendapatkan penanganan yang tepat, sekaligus memberikan rasa aman dan ketenangan bagi keluarga dalam setiap proses perawatan," ujar dr. Margareth.
Riwayat operasi perut memang tidak selalu berujung pada perlengketan yang menimbulkan gangguan. Namun, apabila muncul nyeri perut berulang, kembung, muntah, atau kesulitan buang air besar maupun buang angin, pemeriksaan medis perlu dilakukan. Terlebih jika keluhan disertai nyeri hebat atau muntah terus-menerus, pasien perlu segera mendapatkan pertolongan medis karena bisa menjadi tanda sumbatan usus.