Berkenalan dengan Hastu Wijayasri, Developer Tunarungu

Hastu Wijayasri.
Sumber :
  • Dok. VIVA/ Alika

VIVA – Setiap orang ingin terlahir menjadi sosok yang sempurna. Namun takdir memiliki aturan main sendiri. Manusia tak bisa meminta akan dilahirkan oleh siapa dan dalam keadaan bagaimana, termasuk tak dapat menolak bila dianugerahi kekurangan fisik.

img_title Mulai dari HP hingga Laptop, Ini Cara AI Diam-diam Membantu Aktivitas Harian Tanpa Banyak Disadari

Namun, sejarah telah mencatat, sederet orang yang berhasil mencapai puncak keberhasilan di tengah keterbatasan. Tokoh dan ilmuwan Stephen Hawking, salah satu contohnya. Karena mengidap penyakit saraf, profesor kelahiran 8 Januari 1942 itu, harus melewatkan sepanjang waktunya di atas kursi roda.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Hawking bahkan tak mampu makan dan bangun tidur sendiri. Akan tetapi, keadaan itu tak menghalanginya untuk menghasilkan karya yang menjadi rujukan di bidang sains hingga kini.

img_title Kolaborasi RI-Korsel: Dorong Transformasi Koperasi dan UKM Lewat Teknologi AI dan Smart Factory

Di Indonesia sendiri tak kekurangan sosok inspiratif yang mampu berprestasi dengan melawan keterbatasan. Sosok perempuan muda Angkie Yudistia, misalnya.

Angkie menjadi seorang penulis buku dan CEO Thisable Enterprise, organisasi bagi penyandang disabilitas untuk mendapat pelatihan keterampilan agar bisa bersaing di dunia kerja. Judul buku yang Angkie terbitkan, yaitu 'Perempuan Tunarungu Menembus Batas' dan 'Setinggi Langit'. Ia juga pernah menjadi finalis Abang None Jakarta pada 2008.

img_title Kini Kamera Dashcam Sudah Disematkan Fitur AI Canggih

Satu lagi sosok generasi muda Indonesia yang berjuang dalam keterbatasan. Namanya Hastu Wijayasri. Gadis asal Yogyakarta, kelahiran 5 Februari 1998 ini mendalami dunia teknologi agar bisa menghasilkan karya yang bermanfaat bagi banyak orang.

Disabilitas tunarungu yang dialami Hastu, justru memotivasinya untuk memantabkan niat menjadi seorang developer. Bersama kakak tingkatnya di jurusan Teknik Informatika UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Tesya Nurintan, Hastu mengembangkan aplikasi bernama 'Sukacare' untuk membantu difabel lainnya.

Hastu Wijayasri dan Tesya Nurintan

Hastu dan Tesya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Saat ditemui di acara Google Developer Showcase 2018, di Jakarta 6 Desember 2018, Hastu menceritakan untuk menyelam ke dunia developer ini bukan tanpa kesulitan. "Sebelum masuk, aku enggak ngerti apa-apa, ini benar-benar nol. Karena aku punya tujuan, jadi aku harus mencari cara bagaimana agar bisa bergabung di situ," katanya menggunakan bahasa isyarat.

"Aku ingin mencari pengetahuan dan hal yang baru, mencoba cari pengalaman yang lain, mencari tujuan masa depanku seperti apa," tambahnya.  

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut