Perhatikan Etika Snorkeling agar Terumbu Karang Tetap Lestari

Ilustrasi terumbu karang.
Sumber :
  • VIVA.co.id/Siti Nuraisyah Dewi

VIVA – Terumbu karang merupakan makhluk hidup berupa hewan yang ada di laut. Selain berfungsi menahan ombak besar, terumbu karang juga sering dimanfaatkan sebagai objek penelitian untuk mengetahui perubahan ekosistem laut akibat polusi.

img_title ICRS 2026, Pupuk Kaltim Beberkan Proses Rehabilitasi 2,23 Hektare Terumbu Karang di Bontang

Peneliti Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Intan Suci Nurhati mengatakan, apa yang ada di alam bisa dipelajari untuk mengetahui kerusakan di Bumi. Dengan mempelajari terumbu karang, peneliti dapat mengidentifikasi permasalahan yang ada di laut, seperti perubahan suhu hingga pencemaran.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Terumbu karang itu hewan yang memiliki kaki, tangan dan tentakel. Dia sama seperti kita yang memproduksi kapur sehingga bisa tumbuh besar. Saya mengukur klasifikasinya, bagaimana mereka bertahan dan merespons perubahan iklim dan lingkungan," katanya di LIPI, Jakarta Selatan, Jumat, 8 Maret 2019.

img_title Ini yang Terjadi pada Otak saat Bekerja di Lingkungan Positif

Intan kemudian bercerita, terumbu karang di Kepulauan Seribu, Jakarta, sempat mengalami pertumbuhan yang tidak normal. Menurutnya, 30 tahun lalu, hewan tersebut terlalu cepat bertambah tinggi. Padahal seharusnya pada kondisi normal, tingginya hanya bertambah 1,5 cm per tahun.

Akibat pertumbuhan yang terlalu cepat itu, terumbu karang menjadi keropos. "Seperti manusia, awalnya ada efek positif jika dia lapar kemudian diberi makan. Namun jika berlebihan akan memberi dampak negatif. 30 tahun yang lalu responsnya negatif, semakin tinggi malah semakin keropos. Seperti orang jangkung namun menderita osteoporosis," katanya.

img_title Sains di Balik BPA, Senyawa Kimia yang Kerap Jadi Perdebatan

Namun, saat ini pertumbuhan terumbu karang tersebut sudah kembali normal, karena batas suhunya sudah lewat dan gizinya telah terpenuhi. Intan sendiri melihat adanya harapan, sehingga ia berpesan agar para aktivis jangan sampai menyerah dalam menjaga hewan tersebut. Pesan Intan ini lantaran melihat bahwa terumbu karang sendiri masih mampu bertahan meski ada perubahan iklim.

"Kalau perubahan iklim kan masalah yang sudah skala internasional, masih banyak skala lokal yang bisa kita lakukan untuk mencegah rusaknya terumbu karang. Contoh kecilnya kalau ada yang belajar snorkeling, perhatikan baik-baik, jangan sampai terumbu karang diinjak," katanya. (dhi)

Rangkaian Penghargaan Achmad Bakrie XXII juga diisi dengan agenda ramah tamah

Penghargaan Achmad Bakrie XXII 2026 Kembali Digelar, 4 Tokoh Inspiratif Raih Penghargaan Bergengsi

Mengusung tema “Aksi Nyata Untuk Indonesia”, Penghargaan Achmad Bakrie XXII 2026 menjadi bagian dari rangkaian perjalanan 84 tahun Bakrie. Penghargaan ini siap digelar.

img_title
VIVA.co.id
25 Agustus 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut