Asteroid Ternyata Mata-mata Alien untuk Bumi

Asteroid
Sumber :
  • U-Report

VIVA – Laporan aneh seputar makhluk asing luar angkasa atau alien kembali dilontarkan oleh seorang ilmuwan Amerika. Sang ilmuwan mengatakan alien memata-matai Bumi menggunakan robot pengintai yang diletakkan di antara asteroid.

img_title Pelarian Bos Tempat Hiburan Malam Planet Batam Berakhir! Baru Mendarat dari Singapura Langsung Diciduk Bareskrim

Dilansir dari situs Mirror, Rabu 2 Oktober 2019, pada 1960, fisikawan Universitas Stanford Amerika Serikat, Ronald Bracewell pernah memiliki gagasan komunitas galaksi superior. Artinya ruang galaksi bisa dimanfaatkan untuk penyelidikan dan memantau bentuk kehidupan lainnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Seorang fisikawan, James Benford, berpandangan tempat yang ideal untuk melakukan pengintaian itu ada di asteroid dekat Bumi, yang dikenal co-orbital objects. Seperti namanya, batuan ruang angkasa ini mengelilingi Bumi dan Matahari. 

img_title Ilmuwan Indonesia Masuk Daftar SciRank Global

Tapi hanya sedikit yang pernah ditemukan. Yang baru-baru ini diketahui adalah asteroid kecil H03 2016 yang telah mengitari Bumi selama hampir seabad. Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menggambarkan asteroid dekat Bumi itu sebagai teman setia Bumi.

"HO3 2016 berputar di sekitar planet kita, tetapi tidak pernah menjelajah terlalu jauh karena Bumi dan asteroid itu sama-sama mengelilingi Matahari," kata peneliti NASA, Paul Chodas.

img_title Ilmuwan Teliti Variasi DNA untuk Mengungkap Hubungan Genetik dengan Perilaku Makan

Sedangkan Benford mengatakan, jarak antara batuan ruang angkasa dengan Bumi menjadikannya asteroid itu sebagai tempat ideal bagi alien memata-matai manusia. Dan mungkin juga ada sejumlah alat intelijen di HO3 2016, seperti jangkar.

"Kita harus menyelidiki itu, baik mengamatinya melalui spektrum elektromagnetik maupun radar planet, serta mengunjungi mereka dengan wahana antariksa," tulisnya dalam makalah.

Ilustrasi Tempe

Ilmuwan Indonesia Kembangkan Tempe Generasi Baru

Tim peneliti Universitas Indonesia mengembangkan ragi tempe generasi baru yang dirancang lebih adaptif terhadap perubahan kondisi lingkungan selama proses fermentasi.

img_title
VIVA.co.id
2 September 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut