Komet Sukses Menipu Ilmuwan

Komet.
Sumber :
  • Newsweek

VIVA – Sebuah obyek bintang baru-baru ini yang berhasil teridentifikasi oleh para ilmuwan ternyata sebuah komet. Batu luar angkasa berekor itu sukses menipu ilmuwan lantaran menyamar sebagai asteroid. Obyek bintang yang diberi nama 2019 LD2 itu berbagi orbit dengan Planet Jupiter, yang awalnya, diidentifikasi sebagai asteroid.

img_title Ilmuwan Indonesia Masuk Daftar SciRank Global

Dilansir dari situs Daily Mail, Rabu, 3 Juni 2020, studi lanjutan yang dilakukan Universitas Hawaii, Amerika Serikat (AS) mengonfirmasi bahwa identifikasi asteroid itu tidak benar, benda itu hanya lah komet yang orbitnya berubah kacau.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sebelumnya benda itu disebut dengan Jupiter Trojan, tapi studi baru akhirnya menyebut mereka sebagai bagian dari keluarga komet Jupiter. Komet berada di bawah pengaruh gravitasi Jupiter dan telah dinamakan ulang menjadi P/2019 LD2.

img_title Ilmuwan Teliti Variasi DNA untuk Mengungkap Hubungan Genetik dengan Perilaku Makan

Menurut ilmuwan di masa depan orbitnya kemungkinan besar akan berubah. Astronom Hawaii juga menyebut mereka sebagai penyelundup yang menyamar sebagai populasi Trojan.

Benda ini ditemukan pada tahun lalu lewat Asteroid Terrestrial-Impact Last Alert System (ATLAS). Sinyal yang ditunjukkannya samar-samar mengarah pada kelompok Asteroid Trojan.

img_title Degradasi Plastik Polikarbonat Jadi Perhatian Ilmuwan

Pengamatan yang lebih detail dilakukan pada Juni 2019. Pengamat menemukan ekor, dimana hal tersebut adalah sifat ilmiah dari komet. Sedangkan asteroid Jupiter memiliki orbit yang mengikuti planet, mengelilingi Matahari. Mereka berkelompok, ada di barisan depan atau belakang Jupiter.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Tahun depan, Badan Penerbangan dan Antariksa (NASA) akan mengirim pesawat luar angkasa untuk mengunjungi dan mempelajari Asteroid Trojan. P/2019 LD2 tidak ada dalam daftar penelitian, namun peneliti tetap bisa mengamatinya dengan ATLAS.

"Sistem ATLAS dirancang untuk mencari asteroid berbahaya, namun mereka juga dapat menemukan fenomena yang langka di tata surya kita saat memindai langit. Ini lah kelebihan ATLAS, dapat menemukan fenomena yang langka," kata penyelidik utama proyek ATLAS, Larry Denneau.

Ilustrasi Tempe

Ilmuwan Indonesia Kembangkan Tempe Generasi Baru

Tim peneliti Universitas Indonesia mengembangkan ragi tempe generasi baru yang dirancang lebih adaptif terhadap perubahan kondisi lingkungan selama proses fermentasi.

img_title
VIVA.co.id
2 September 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut