Kejahatan Siber dengan Modus Pemerasan Meningkat

Fitur Ransomware Bad Rabbit.
Sumber :
  • Dok. Kaspersky Lab

VIVA Tekno – Kejahatan siber dalam bentuk ransomware dan pemerasan di Indonesia meningkat mendekati 30 persen pada tahun 2022, dengan 14 kasus dilaporkan di berbagai sektor utama, menurut temuan Palo Alto Networks.

img_title Kamboja Tutup 700 Jaringan Penipuan Online, Ada 3.400 Tersangka dari 29 Warga Negara

Pelaku ancaman menggunakan taktik yang lebih agresif untuk menekan organisasi, dengan jumlah gangguan 20 kali lebih banyak dibandingkan tahun 2021, menurut kasus penanganan insiden Unit 42TM. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Selaras dengan laporan tersebut, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) juga mengungkapkan bahwa ransomware dan pembobolan data merupakan jenis serangan siber yang paling umum sepanjang tahun kemarin, menyumbang 50 persen dari seluruh serangan siber yang dilaporkan di Indonesia pada tahun 2022.

img_title Serangan Siber Berubah di Era AI, Phishing hingga Ransomware Kini Lebih Sulit Dideteksi

Serangan biasanya dilakukan melalui panggilan telepon dan email yang menargetkan individu tertentu, seringkali di C-suite atau bahkan pelanggan untuk menekan korban agar membayar permintaan uang tebusan.

Dalam konferensi pers virtual pada Selasa, 28 Maret 2023, kelompok ransomware telah menggunakan teknik-teknik pemerasan untuk dampak yang lebih besar, untuk menekan organisasi agar membayar uang tebusan. 

img_title Indonesia Dihujani Hampir 15 Juta Serangan

Beberapa taktik ini termasuk enkripsi, pencurian data, Distributed Denial of Service(DDoS), dan gangguan pada korban. 

Pencurian data, yang sering dikaitkan dengan situs-situs kebocoran dark web adalah taktik pemerasan yang paling umum, dengan sebesar 70 persen dari kelompok ransomware menggunakannya pada akhir tahun 2022, meningkat 30 poin dari persentase tahun sebelumnya.

Ransomware.

Photo :
  • U-Report

Para peneliti Unit 42 melihat rata-rata tujuh korban ransomware baru yang di-posting di forum-forum peretas, yang berarti setara dengan satu korban setiap empat jam. 

Sebanyak 53 persen insiden ransomware yang ditangani Unit 42 dan melibatkan negosiasi, kelompok hacker telah mengancam untuk membocorkan data yang dicuri dari organisasi di forum peretas. 

Aktivitas ini dilakukan oleh kelompok peretas baru dan lama, yang menunjukkan bahwa pelaku baru meniru cara untuk meraup keuntungan seperti yang telah dilakukan oleh kelompok sebelumnya. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kelompok peretas mapan seperti BlackCat, LockBit, dan lainnya berkontribusi terhadap 57 persen kebocoran, diikuti oleh kelompok-kelompok baru dengan persentase sebesar 43 persen. 

Kelompok LockBit paling banyak bertanggung jawab atas serangan ransomware di Indonesia pada tahun 2022, menjadi penyebab hampir 30 persen dari total serangan ransomware yang dilaporkan di Tanah Air.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut