Kejahatan Siber Tetap Mengintai Meski Libur Lebaran

Ilustrasi hacker.
Sumber :
  • Getty Images

VIVA Tekno  – Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mengemukakan bahwa ada hampir 1 miliar serangan siber yang terjadi di Indonesia sepanjang 2022, dan masa libur Lebaran menjadi salah satu periode dengan tingkat serangan tertinggi.

img_title 4 E-Commerce Ini Bakal Resmi Pungut Pajak Mulai 1 November 2026, Shopee hingga Blibli

Temuan serupa juga ditemukan PT Global Digital Niaga (Blibli) yang mencatat adanya tren kenaikan intaian bahaya siber (fraud) sebesar 15 persen di libur Lebaran dibanding periode biasa pada tahun lalu. Adapun jenis serangan siber yang paling banyak ditemukan adalah social engineering seperti phishing dan serangan malware.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Blibli mengklaim konsisten mengedepankan keamanan bertransaksi demi menjamin kepuasan dan kenyamanan pelanggan. Terlebih, Indonesia tercatat sebagai negara dengan nilai transaksi e-commerce dan pertumbuhan pengguna dompet digital terbesar di ASEAN. 

img_title E-Commerce Harus Utamakan Produk Lokal, Mendag Dorong Transparansi dari Platform hingga Konsumen

Namun keamanan data privasi juga perlu peran aktif dari tiap pelanggan. Maka dari itu, dengan banyaknya transaksi dan data konsumen yang terekam, perusahaan mengajak pelanggan untuk selalu waspada terhadap peningkatan kejahatan siber dan berbagai modus yang mengintai.

Bentuk penguatan keamanan siber di dalam ekosistem Blibli juga menjadi bentuk dukungan mereka terhadap upaya pemerintah dalam meningkatkan keamanan siber dalam negeri.

img_title Marak Phishing dan Penyalahgunaan OTP, Begini Cara Lindungi Akun Aset Digital

BliBli.

Photo :
  • BliBli

 
Berdasarkan rilis e-commerce tersebut pada Kamis, 20 April 2023, ada beberapa modus kejahatan siber yang marak menjelang libur panjang.

Pelaku bisa saja mengaku sebagai customer service dari platform e-commerce atau bank dan menawarkan doorprize, diskon, cashback, voucher belanja, THR, menang undian, konfirmasi perubahan biaya, penukaran poin reward, atau pembatalan transaksi sepihak.

Penjahat siber juga bisa saja berpura-pura sebagai kurir e-commerce dan mengirimkan link palsu berupa file ekstensi APK dan foto paket customer, lalu meminta korban menginstal aplikasi tertentu dan menyetujui hak akses (permission) pada aplikasi, yang berujung pada pencurian data dalam ponsel.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pelaku berpura-pura mengkonfirmasi dan verifikasi penukaran hadiah, dengan membujuk dan menipu korban untuk menyebutkan Kode/OTP yang telah dikirimkan melalui SMS/Email. Kode tersebut pun digunakan untuk menarik data dan dana korban.

"Di era serba digital dan kemajuan teknologi sekarang ini, jenis serangan siber kian beragam dengan berbagai modus, mulai dari sebar link promo palsu sampai penipuan kode OTP," ujar VP of Information Security Blibli, Rendra Perdana Satria.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut