AI Jadi 'Game Changer'

Kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Sumber :
  • Analytics Insight

VIVA Tekno – Industri teknologi berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) diprediksi semakin memegang peranan penting di sektor ekonomi. Berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), AI diperkirakan akan menambah Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia hingga US$386 miliar atau Rp5,5 triliun pada 2030.

img_title Sebelum Beli iPhone 18, Pertimbangkan Hal Ini agar Tidak Menyesal Setelah Upgrade

Kecerdasan buatan sebagai salah satu teknologi yang menjadi kunci utama perubahan besar di masa depan, tapi sisi lain memiliki beberapa risiko. Yang paling dikhawatirkan oleh banyak kalangan adalah meningkatnya tingkat pengangguran akibat lapangan pekerjaan yang diisi oleh otomatisasi dan AI.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Grant Thornton melihat teknologi ini sebagai game changer sehingga harus dipastikan dapat berkembang di berbagai lapisan masyarakat. Dengan masifnya pengembangan AI diharapkan bisa mengakselerasi transformasi ekonomi Indonesia. Mulai dari mempercepat pemerataan pembangunan hingga menggerakkan sektor riil maupun ekonomi kreatif.

img_title Soroti AI, Megawati: Kecerdasan Utama Dibuat Oleh Tuhan

"Kami fokus di kualitas supaya bisa terus beradaptasi terhadap perkembangan industri. Tantangan paling utama sekarang adalah maraknya penggunaan AI. Ini harus dimanfaatkan maksimal agar tetap relevan," kata Assurance Partner Grant Thornton Indonesia, Tagor Sidik Sigiro, kala berbincang dengan VIVA Tekno dan sejumlah media massa di Jakarta.

Ia mendorong perusahaan-perusahaan juga harus mulai menuju ke hal-hal seperti sustainability dan accountability memasuki 2024. Hal apapun yang dilakukan oleh perusahaan saat ini bisa dinilai oleh masyarakat umum secara langsung karena penggunaan media yang sudah masif.

img_title Megawati Curhat Jadi Korban AI: Saya Kaget!

Harapannya, perusahaan dapat menganggap sustainability menjadi hal yang membuat semua stakeholder mulai sadar dan aktif terhadap konsep berkelanjutan. Bicara tahun politik jelang pemilu, Tagor melihat tidak terlalu mempengaruhi keputusan para pelaku usaha untuk mendaftarkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI).

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Masih ada persiapan untuk melakukan IPO dari mulai akhir semester pertama tahun ini hingga memasuki awal tahun 2024. Dalam masa pendaftaran 6 bulan untuk penerbitan proses IPO, klien-klien kami berpendapat bahwa hasil pemilu tidak terlalu mempengaruhi keputusan untuk go public, karena mereka yakin bahwa saham domestik tetap akan diserap oleh investor domestik," jelas Tagor.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Center of Economics and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira Adinegara, yang mengatakan investasi selalu mengalami perlambatan setiap tahun politik. Sementara untuk tahun depan, investasi diperkirakan akan tumbuh positif namun melandai di angka 3 persen.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut