Dua Poin Penting Revisi UU ITE

Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kemenkominfo Usman Kansong.
Sumber :
  • VIVA/Misrohatun Hasanah

VIVA Digital – Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika Usman Kansong mengatakan bahwa setidaknya terdapat dua poin penting pada revisi kedua Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) yang akan segera disahkan.

img_title Anggaran Kemhan Naik Jadi Rp189 Triliun, Menhan: Tugas Kita Banyak

"(Misalnya) ada pasal pelindungan anak di ruang digital. Sebelumnya sama sekali tidak ada, ini ada," ujarnya di Jakarta, Senin, 4 Desember 2023. Selain itu, terdapat pengecualian yang diatur pada Pasal 27 UU ITE.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dalam beberapa kasus di masyarakat, terdapat perbedaan penafsiran yang dapat mengakibatkan seseorang yang seharusnya melaporkan kasus penghinaan justru menjadi tersangka. Usman mencontohkan kasus Baiq Nuril, di mana kala itu Baiq malah menjadi tersangka usai melaporkan adanya dugaan pelecehan seksual terhadap dirinya.

img_title Legislator DPR Desak Pemerintah Keluarkan Travel Warning Usai 1 WNI Diserang Kelompok Houthi

Ia mengatakan, dengan adanya pasal pengecualian, seseorang dapat dikecualikan dari sanksi UU ITE jika tindakan tersebut dilakukan untuk kepentingan pembelaan diri dan dapat dibuktikan.

"Kalau sebelumnya kan tidak diatur ya, pengecualian, orang dilarang menghina mencemarkan nama baik, menurunkan martabat orang. Tapi ini ada pasal pengecualian itu boleh. Kalau itu untuk kepentingan pembelaan diri dan bisa menunjukkan maka itu tidak akan terkena UU ITE ini. Itu di Pasal 27 diatur," jelas Usman.

img_title Perda Pengendalian Pencemaran Udara Sudah Tak Memadai, DPRD Jakarta Didorong Prioritaskan Revisi

Terpidana kasus pelanggaran UU ITE Baiq Nuril menjawab sejumlah pertanyaan wartawan usai menjalani sidang perdana pemeriksaan berkas memori PK di Pengadilan Negeri Mataram, NTB

Photo :
  • ANTARA FOTO/Dhimas B. Pratama

Lebih lanjut, dirinya menegaskan bahwa revisi UU ITE dilakukan untuk menjaga kebebasan berpendapat di ruang publik, namun tetap mempertimbangkan hak dan kebebasan individu lainnya.

Dengan adanya perubahan ini, kata dia, diharapkan ruang digital di Indonesia menjadi lingkungan yang aman dan sehat. "Revisi Undang-Undang ITE ini juga untuk memberi kepastian hukum. Karena tadi kan ada pengecualian itu, jadi ada kepastian hukum," tutur Usman.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sebagai informasi, Komisi I DPR bersama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) telah menyetujui Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) untuk dibawa ke Rapat Paripurna selanjutnya dan disiapkan untuk menjadi regulasi.

RUU ITE tersebut merupakan revisi kedua yang dilakukan oleh Pemerintah bersama DPR, dan kini naskah RUU ITE telah disetujui agar dapat segera dijadikan Undang-Undang.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut