Anak-anak Jadi Target Ancaman

Ilustrasi anak belajar dari komputer.
Sumber :
  • Pexels/Julia M Cameron

VIVA Tekno – Dengan sebagian besar anak-anak yang dapat mengakses atau memiliki smartphone atau ponsel pintar maupun tablet, usia di mana mereka mulai mengenal dunia digital dan teknologi terus menurun.

img_title Bukan Sekadar Tren Teknologi, AI Kini Mulai Menarik Perhatian

Oleh karena itu, sangat penting bagi orangtua untuk terus mengetahui informasi tentang ancaman siber terbaru yang menargetkan anak-anak agar mereka dapat lebih terlindungi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dalam postingan ini, para ahli Kaspersky mengeksplorasi beberapa tren siber utama yang harus diwaspadai orangtua, dan memberikan tips tentang cara melindungi aktivitas online anak-anak mereka:

img_title Terlalu Sering Mengandalkan AI? 6 Kemampuan Ini Bisa Perlahan Melemah Tanpa Disadari

1. Anak-anak akan semakin banyak menggunakan teknologi AI yang, sejauh ini, belum siap menyediakan tingkat keamanan siber dan konten yang sesuai dengan usia mereka.

Menurut penelitian PBB, sekitar 80 persen anak muda mengaku berinteraksi dengan AI beberapa kali sehari. Dengan berkembangnya AI, banyak aplikasi yang kurang dikenal bermunculan dengan fitur yang tampaknya tidak berbahaya, seperti mengunggah foto untuk menerima versi modifikasi.

img_title AI Memberi Guru Ruang untuk Bereksperimen Belajar Siswa

Namun, ketika anak-anak mengunggah gambar mereka ke aplikasi semacam itu, mereka tidak pernah tahu di database mana foto-foto mereka akan tetap ada, dan apakah foto-foto itu akan digunakan lebih lanjut.

Selain itu, aplikasi AI, khususnya chatbot, dapat dengan mudah menyediakan konten yang tidak sesuai usia saat diminta. Misalnya, ada banyak chatbot AI yang dirancang khusus untuk memberikan pengalaman “erotis”.

Meskipun beberapa anak memerlukan verifikasi usia, hal ini berbahaya karena beberapa anak mungkin memilih untuk berbohong tentang usia mereka dan pencegahan terhadap kasus-kasus tersebut tidak cukup.

2. Meningkatnya serangan aktor berbahaya terhadap gamer muda

Menurut statistik online terbaru, 91 persen anak usia 3-15 tahun bermain game di perangkat apa pun. Untuk beberapa game, obrolan suara dan teks yang tidak dimoderasi merupakan bagian besar dari pengalaman tersebut.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dengan semakin banyaknya generasi muda yang mengakses internet, para penjahat siber dapat membangun kepercayaan dengan cara sama seperti yang mereka lakukan secara langsung. Penjahat siber mendapatkan kepercayaan dari pemain muda dengan memikat mereka dengan hadiah atau janji persahabatan.

Begitu mendapatkan kepercayaan, mereka mendapatkan informasi pribadi para gamer muda melalui ajakan untuk mengeklik tautan phishing, dan mengunduh file berbahaya yang menyamar sebagai mod permainan untuk Minecraft atau Fortnite, atau bahkan melakukan grooming.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut