Cuaca Cepat Berubah, Normalkah

Ilustrasi cuaca panas.
Sumber :
  • Pixabay

VIVA Tekno – Fenomena cuaca yang cepat berubah seperti hujan deras di musim kemarau telah memicu banyak pertanyaan.

img_title BMKG Pastikan Tak Ada Indikasi Tsunami Imbas Erupsi Gunung Anak Krakatau

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menegaskan bahwa perubahan cuaca yang tiba-tiba ini adalah hal yang normal di Indonesia.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurutnya, letak geografis Indonesia yang berada di antara dua benua, Australia dan Asia, serta dua samudra, Pasifik dan Hindia, menjadikan negara ini memiliki dua musim yang berbeda, yaitu musim hujan dan musim kemarau.

img_title BMKG Ungkap Abu Vulkanik Anak Krakatau Tak Terdeteksi Lagi di Indonesia

Angin monsun barat dari Asia menyebabkan musim hujan, sementara angin monsun timur dari Australia yang kering membawa musim kemarau.

Ilustrasi cuaca panas

Photo :
  • Pixabay

img_title Kabar Terbaru Abu Vulkanik Anak Krakatau, BMKG Ungkap Kondisinya Hari Ini

Ilustrasi cuaca panas

Photo :
"Letak geografis ini menjadikan Indonesia memiliki dua musim yang berbeda, yaitu musim hujan dan musim kemarau. Angin monsun barat dari Benua Asia membuat Indonesia mengalami musim hujan. Sementara secara umum, musim kemarau di Indonesia berkaitan dengan aktifnya angin monsun timur dari Australia yang bersifat kering," ungkap Dwikorita Karnawati, seperti dikutip dari laman BMKG, Kamis, 11 Juli 2024.

Meskipun sedang musim kemarau, bukan berarti hujan tidak turun sama sekali. Ia menjelaskan bahwa curah hujan di suatu tempat dianggap rendah jika kurang dari 50 mm per dasarian dan terjadi minimal tiga dasarian berturut-turut. Musim kemarau di Indonesia tidak terjadi serentak di seluruh wilayah dan memiliki durasi yang berbeda-beda.

Ilustrasi cuaca ekstrem.

Photo :
  • VIVA

Berdasarkan pemantauan BMKG hingga akhir Juni 2024, sebanyak 43 persen zona musim di Indonesia sedang mengalami musim kemarau.

Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Juli dan Agustus 2024, mencakup 77,27 persen wilayah zona musim. Namun, musim kemarau di beberapa wilayah tetap bisa hujan karena berbagai faktor iklim lainnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dwikorita Karnawati juga menjelaskan bahwa keragaman iklim di Indonesia tidak hanya dipengaruhi oleh musim, tetapi juga oleh faktor global seperti El Nino/La Nina, faktor regional seperti Madden Julian Oscillation (MJO), dan faktor lokal seperti angin darat-angin laut.

Interaksi berbagai faktor ini seringkali menyebabkan cuaca yang berubah-ubah. “Sebuah kejadian cuaca, umumnya merupakan hasil interaksi dari berbagai faktor tersebut," tuturnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut