AS Gagal Jegal China

Joe Biden dan Donald Trump (AS) Vs Xi Jinping (China).
Sumber :
  • The Atlantic

Jakarta, VIVA – Pembatasan pasokan chip akibat kebijakan Amerika Serikat (AS) membuat industri di China harus memutar otak guna berinovasi dalam pengembangan kecerdasan buatan (AI).

img_title Mengenal Sosok Mao Zedong, Tokoh yang Disinggung Mbappe

Industri China didukung melimpahnya talenta muda di dunia teknologi informasi dari kampus-kampus ternama negeri tersebut.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

ChatGPT sempat menggemparkan dunia dengan kecerdasan buatan (AI). Sebuah pertanyaan sempat muncul apakah China bisa menandingi AS?

img_title Lagi Pameran di GIIAS Makassar 2026, Harga Mobil BAIC Dipotong Rp100 Juta

Dua tahun berselang, China menciptakan model AI baru dan dalam sekejap membalikkan pertanyaan itu: mampukah AS menghentikan inovasi China?

Sebelum kemunculan DeepSeek, Beijing dinilai belum bisa menandingi ChatGPT karena layanan chatbot itu tidak tersedia di China.

img_title Respons Tegas Pemerintah China Usai Mbappe Sebut Mao Zedong sebagai Diktator

China sempat menghadirkan Ernie, chatbot dari raksasa mesin pencari Baidu, tapi banyak dicibir penggunanya.

Kemudian, muncul versi dari perusahaan teknologi Tencent dan ByteDance Technology, yang dianggap sebagai pengikut ChatGPT—tetapi dinilai tak bisa menyamai ChatGPT.

AS sempat yakin bahwa mereka unggul dalam persaingan ini dan berupaya mempertahankan keunggulan tersebut dengan melarang ekspor chip dan teknologi canggih ke China, seperti dikutip dari situs BBC, Jumat, 31 Januari 2025.

Namun, itu semua berubah dengan kelahiran DeepSeek. Peluncurannya telah mengejutkan industri teknologi Silicon Valley dan dunia.

Perusahaan tersebut mengatakan bahwa modelnya yang canggih jauh lebih murah daripada proyek perusahaan-perusahaan AI dari AS yang bernilai miliaran dolar AS.

Lalu, bagaimana bisa sebuah perusahaan yang tidak dikenal meraih pencapaian ini? AS sempat melayangkan pukulan telak kala melarang produsen chip terkemuka dunia seperti NVidia menjual chip canggih ke China.

Padahal chip-chip tersebut penting untuk membuat model AI canggih yang dapat melakukan berbagai tugas manusia, mulai dari menjawab pertanyaan dasar hingga memecahkan soal matematika yang kompleks.

Dalam sebuah wawancara media, Liang Wenfeng selaku pendiri DeepSeek, mengaku bahwa larangan ekspor chip ke China merupakan "tantangan utama" bagi perusahaan yang dipimpinnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Padahal, jauh sebelum larangan tersebut, DeepSeek memperoleh "stok chip yang cukup banyak" seperti chip Nvidia A100 yang berjumlah 10 ribu – 50 ribu unit, sebagaimana diberitakan MIT Technology Review.

Model AI terkemuka di Barat diperkirakan menggunakan sekitar 16 ribu chip canggih. Tetapi DeepSeek mengatakan mereka melatih model AI mereka menggunakan 2.000 chip canggih ditambah ribuan chip kelas bawah.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut